Memo Hermawan Hadiri Upacara Adat Ngertakeun Bumi Lamba

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PDIP Memo Hermawan menghadiri upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba di Gunung Tangkuban Perahu, Minggu (26/7). Dalam budaya Sunda ada istilah pamali, kapahung, kawalat, kabadi dan seterusnya terbukti efektif dalam menjaga dan melestarikan Leuweung tutupan, hutan larangan, Leuweung/hutan adat, Leuweung karamat dll, kesemuanya itu adalah kearifan lokal yang berdasar pada adat, budaya dan tradisi.

Ngertakeun Bumi Lamba adalah ungkapan rasa syukur dan ekspresi penghormatan terhadap alam melalui tata cara adat, budaya dan tradisi leluhur sekaligus menanamkan komitmen menghormati dan menjaga alam sehingga menjadi penting bagi kita semua sebagai aksi nyata tindakan mitigasi bencana yang sangat esensial karena NBL dapat mencetak insan insan/individu yang menghormati dan menjaga alam dengan segala kesadaran.

Perlu diketahui, upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba sendiri merupakan kearifan lokal yang luar biasa. Upacara ini adalah sebuah upacara tahunan yang di gelar bertepatan dengan perjalanan matahari yang baru mulai kembali dari paling utara bumi. Perjalanan matahari ini jatuh di setiap bulan ‘kapitu’ atau bulan ke 7 dalam hitungan Suryakala, kala-ider. Suryakala, kala-ider sendiri merupakan kalender khusus masyarakat Sunda.

Menurut Memo kebudayaan menjadi identitas yang wajib hukumnya dimiliki oleh setiap manusia Indonesia, hal ini sejalan dengan gagasan Bung Karno yaitu berkarakter dalam budaya.

“kita ini sebagai manusia Indonesia kalau tidak mencintai budaya kita terus mau siapa lagi? Dan hal ini menjadi ajaran Bung Karno bahwa kita haruslah Berkarakter dalam Budaya” ujar Memo.

Menurut tradisi tersebut, gunung digambarkan sebagai tempat suci yang harus dijaga. Tradisi ini biasanya dikategorikan sebagai pesan vertikal, antara manusia (melalui alam) dengan Tuhan sebagai falsafah hidup orang Sunda. Ketika prinsip vertikal dijalankan maka akan tercipta suatu hubungan yang harmonis antara manusia, alam dengan Tuhan dan terhindar dari bencana yang menimpa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *