Fenomena Thrifting Pakaian Bekas Dinilai Salah Kaprah

TEKSTILPOST.ID – Belanja pakaian bekas menjadi trend yang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat, khususnya kalangan muda. Membeli pakaian bekas ini menjadi istilah yang ramai dibicarakan yakni thrift shopping. Namun, efek thrift shopping ini menjadi ancaman bagi masyarakat umum maupun industri tekstil.

Direktur Eksekutif Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Riza Muhidin mengatakan bahwa fenomena ini muncul dari kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah pakaian bekas. Namun, hal ini menjadi salah kaprah karena baju bekas yang beredar di pasar belum tentu higienis.

“Para pedagang ini membeli baju dalam bentuk bal dengan pakaian yang berbeda-beda. Mereka sengaja mengimpor pakaian bekas dan menjualnya dengan harga murah. Kita tidak tahu asal mula pakaian bekas itu datang darimana, bisa jadi dari tempat pembuangan. Tentu pakaian bekas ini bisa menularkan penyakit,” kata Riza kepada Tekstil Post, Selasa (7/6/2022).

Ia juga menjelaskan fenomena thrift shopping bukan untuk menjaga kelestarian lingkungan akibat sampah tekstil. Justru, memakai pakaian impor bekas akan mematikan industri dalam negeri.

“Bisa dibayangkan kalau fenomena ini terus berlanjut berapa banyak pakaian bekas yang akan datang di Indonesia. Bisa-bisa kita menjadi tempat pembuangan pakaian bekas dari seluruh dunia. Akhirnya, pasar domestik penuh dengan pakaian bekas dan industri dalam negeri tidak dapat tumbuh. Tenaga kerja tidak dapat terserap secara optimal,” ucap Riza.

Diwaktu yang sama, Analis Industri dan Perdagangan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi menambahkan bahwa penggunaan serat berbahan baku recycle menjadi solusi untuk mengurangi pemakaian baju bekas. Selain itu, konsumen juga turut andil dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Konsumen bisa memilih baju dengan bahan baku polyester recycled. Industri dalam negeri sudah ada yang memproduksi polyester recycled ini. Polyester recycled ini berasal dari botol-botol plastik bekas yang nantinya akan dijadikan chip kembali dan dipintal menjadi benang untuk menjadi kain layak pakai,” ucap Aqil.

Ia pun mengatakan bahwa pentingnya edukasi terkait kelestarian lingkungan dalam memilih pakaian layak pakai perlu disuarakan. Pemerintah perlu tegas dalam menindaklanjuti fenomena pemakaian baju bekas asal impor ini.

“Adanya trend thrift shopping karena kurangnya edukasi terkait pemilihan pakaian layak pakai. Masyarakat tentunya sangat senang dengan barang branded dengan harga murah. Harapannya, pemerintah dapat turun tangan dalam menangani fenomena ini,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *