API Jabar Buka Suara Soal Jaga Lingkungan di Sungai Cimeta

TEKSTILPOST.ID – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat mengatakan limbah yang mencemari Sungai Cimeta belum tentu berasal dari industri tekstil. Humas API Jabar Nia Alamanda mengatakan tanggung jawab limbah bukan hanya pada industri tekstil, tetapi juga pada perusahaan lain.

“Berdasarkan info yang kami dapat, bahwa satgas ikut turun tangan dalam penelitian limbah tersebut, sehingga belum tentu limbah tersebut berasal dari industri tekstil apalagi dengan sengaja membuang limbah di sungai Cimeta dan merugikan lingkungan sekitar,” ujar Nia, Jumat (3/6).

Sementara, Wakil BPD API Jabar David Leonardi mengatakan industri tekstil berkomitmen melindungi lingkungan dengan membuat laporan baku mutu limbah ke Dinas Lingkungan Hidup. Industri tekstil bersama Satgas Citarum Harum juga memeriksa baku mutu limbah.

“Semua industri tekstil memiliki instalasi pengolahan limbah sebelum dibuang ke sungai dengan syarat sudah memenuhi baku mutu industri,” ujar David.

Dia mengatakan biaya yang dikeluarkan bergantung pada kapasitas pengolahan air limbah, yaitu minimal Rp500 juta sampai Rp1 miliar untuk mencapai baku mutu limbah.

Sebelumnya, air Sungai Cimeta diketahui berubah warna diduga tercemar limbah pabrik.

Satgas Citarum Harum mengatakan terdapat kemasan berisi zat pewarna di sekitar sungai yang diduga limbah B3, tepatnya di RT 02/ RW 01, Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang.

“Iya berubah merah. Infonya itu berasal dari zat pewarna. Nanti akan dicek lagi,” kata Taufan, petugas Satgas Citarum.

Aktivis Komunitas Elemen Lingkungan (ELINGAN), Deni mengatakan air sungai berubah menjadi merah terlihat hari ini. Namun, kejadian itu bukan yang pertama.

Deni mengungkapkan aliran Sungai Cimeta sudah tercemar sejak lama. Warna air juga kerap berubah-ubah, bukan hanya merah.

“Kalau warna mah tidak selalu merah. Kebetulan saja warna sedang merah. Kalau tiap hari tidak juga, tapi biasanya musim hujan dan malam,” ujarnya.

Sementara, Kepala Bidang Penataan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat Arif Budhiyanto mengatakan air Sungai Cimeta berubah warna lantaran zat pewarna yang dibungkus oleh kantong plastik dengan kapasitas kurang lebih 30 kg.

Rupanya, bungkusan itu dibuang ke sungai oleh warga atas perintah warga lainnya.

“Kami mengumpulkan keterangan dari dua orang warga setempat tersebut. Pelaku pembuang mengakui membuang sumber pencemar dari bahu jalan ke sungai atas perintah seorang warga lainnya,” kata Arif.

Untuk sementara, beberapa orang telah diperiksa pihak berwajib dan mengarah pada dugaan tindakan pidana yang saat ini tengah ditangani oleh Polresta Cimahi dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan Hidup.

Arif menambahkan hasil pemeriksaan lanjutan akan menjadi dasar penetapan tersangka setelah melalui proses gelar perkara sesuai mekanisme Hukum Acara Pidana.

Sumber : CNN Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *