Kolaborasi Produsen dan Marketplace, Digitalisasi Industri Tekstil Semakin Nyata

TEKSTILPOST.ID – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mulai menikmati pasar domestik usai diimplementasikan sejumlah kebijakan pengamanan pasar dalam negeri. Namun, rantai pasok antara industri hulu dan hilir masih panjang sehingga industri kecil dan menengah (IKM) masih kesulitan untuk mendapatkan bahan baku.

Marketing Communications Manager Reza Yusuf Ali Nugraha mengatakan bahwa rantai pasok antara industri TPT perlu dibenahi. Kedepannya, pabrik tekstil dapat menjual produknya dengan harga pabrik dalam satu marketplace.

“Poolapack bisa menjadi wadah industri TPT untuk suplai kebutuhan industri tanpa melalui distributor. Jadi konsepnya adalah B2B atau B2C. Kami juga melakukan verifikasi apakah produk yang dibuat memang diproduksi atau umpan jual saja sehingga produk yang dipasarkan memang buatan Indonesia,” kata Reza kepada Tekstil Post dalam acara Sharing Session di Bandung, Kamis (21/4).

Dia juga menambahkan bahwa Poolapack secara bertahap akan bekerja sama dengan industri hulu TPT untuk melengkapi rantai pasok sehingga integrasi industri tekstil melalui platform digital terasa nyata.

“Bertahap nantinya. Salah satunya kita kerjasama dengan Birla Cellulose. Mereka bisa pasarkan produknya di Poolapack. Nantinya produsen kain maupun benang bisa cari di marketplace kita,” ujar dia.

Presentasi Poolapack, Marketplace Berbasis Group Buying Pertama di Indonesia

Ditempat yang sama, Deputy Manager Business Development Birla Cellulose Randy Azmi mengatakan bahwa digitalisasi industri TPT memang perlu dilakukan. Kelestarian lingkungan dalam berpakaian harus diedukasikan secara langsung kepada konsumen.

“Edukasi ke konsumen terkait sustainable fashion ini memang perlu dimasifkan. Bukan hanya industri hilir saja yang melakukan promosi, industri hulu juga harus aktif. Bahkan, informasi karakteristik seratnya bisa di publikasikan di media sosial,” ucap Randy.

Randy mengatakan bahwa Birla Cellulose sejak awal fokus pada kampanye sustainable fashion dan pengembangan serat berbasis alam.

“Kolaborasi antara pelaku usaha ini sangat penting. Apalagi nantinya kalau didukungoleh marketplace. Tentunya ini menjadi playing field yang fair industri TPT,” tambah Randy.

Sesi Diskusi dengan Kania Creative Agency

Selain itu, Creative Designer Kania Creative Agency Alzha Qollby menambahkan bahwa promosi industri TPT ini harus masuk ke media sosial. Pasalnya, perilaku konsumen untuk mencari produk yang diingikan sudah menggunakan media sosial.

“Produsen sekarang bisa target pasarnya melalui media sosial. Campaign and branding ini masih banyak dilakukan oleh retail maupun UMKM, namun masih minim dilakukan oleh industri besar baik hulu maupun hilir,” kata Alzha.

Alzha juga menambahkan, industri TPT bisa mengonsep branding produknya dari awal sehingga memiliki ciri khas tertentu. Dengan begitu, konten marketing nya akan berjalan dengan efektif.

“Misalnya rayon yang memiliki ciri khas sustainable. Dengan konsep seperti itu, konsumen nantinya menjadi paham bahwa dengan menggunakan produk berbahan rayon tentunya mereka mendapatkan pakaian yang ramah lingkungan,” ujarnya

Dalam acara Sharing Session dengan tema Pentingnya Branding Melalui Media di Tengah Persaingan Bisnis yang Ketat dihadiri puluhan orang yang terdiri dari pelaku usaha, akademisi, dan mahasiswa. CEO & Founder Poolapack Darius B. Jaya turut hadir dalam kegiatan tersebut. Acara tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Poolapack, Kania Creative Agency dan Birla Cellulose.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *