LSM Pemuda Sampaikan Dugaan Pungutan Liar di SMAN 3 Kabupaten Garut

TEKSTILPOST.ID – Pertemuan audiensi di SMAN 3 Kab. Garut yang dibuka oleh Pokja DPD LSM pemuda membahas mengenai urgensi mereka kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat terkait dengan dugaan pungutan liar serta tekanan intervensi pihak sekolah kepada siswa. Pertemuan yang juga dihadiri oleh Memo Hermawan selaku anggota DPRD Jawa Barat, komite sekolah, camat, pihak disdik, dan juga orang tua murid terjadi pada tanggal 15 Maret 2022.

Kelangsungan kegiatan audiensi diwakilkan oleh Rizki Fauzi menyampaikan informasi yang diperoleh dengan adanya dugaan pungli sebesar 1 juta rupiah/siswa di SMAN 3 Kab. Garut dengan dalih kurangnya dana, hal itu sangat disayangkan terjadi didunia pendidikan. Selain itu juga para siswa mendapat tekanan intervensi dari pihak sekolah jika tidak membayar uang tersebut maka tidak mendapatkan ijazah dan ditahan pihak sekolah. Jika melihat dana APBD untuk pendidikan dinilai sudah besar, maka kemana uang itu dialokasikan.

Meliihat dan meninjau informasi tersebut para anggota pokja melakukan audiensi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat agar mendapatkan tindakan, tetapi ternyata hasil dari audiensi tersebut tidak mendapat subtansi yang diajukan. Hal ini menjadi dampak dimasyarakat khusunnya bagi para orang tua murid yang mana tidak semua orang dapat membayar uang dengan jumlah yang besar apalagi ditengah pandemic seperti ini.

Pihak dinas pendidikan menyangkal adanya subatansi yang tidak dilanjuti, karena pihaknya sudah menugaskan kepala sekolah terkait untuk berkomunikasi dengan pihak LSM pemuda, dewan pendidikan juga menyampaikan bahwa tidak boleh adanya pungutan liar, karena harus sesuai dengan birokasi yang ada dari dewan pendidikan, tidak dapat dilakukan dengan bebas apalagi menyangkut dengan anggaran.

Menurut klarifikasi komite, SMAN3 Kab. Garut saat ini sedang melakukan pembangunan, dana 1 juta itu tidak wajib dibayarkan itu merupakan hasil sawdaya dari orang tua tidak ada unsur paksaan dan tidak beresiko terhadap dunia pendidikan dalam hal ini menyakut dengan penahan ijazah bagi yang tidak membayar. Anggaran dari dana APBD memang besar tetapi bedar juga pengeluaran untuk alokasniya, selanjutnya kepala sekolah SMAN 3 Kab. Garut juga menambahan bahwa masih banyak orang tua siswa yang belum menyumbang untuk pembangunan, dari RAB 90 Juta baru terkumpul 64 juta.

Pendapat camat mengenai urgensi ini menilai bahwa tidak hanya SMAN 3 saja yang diperhatikan karena di Cihurip masih banyak yang harus dilihat karena saat ini masih jauh tertinggal banyak sekolah yang membutuhkan ruang belajar. Saat ini IPM kota Garut masih jauh tertinggal dengan peringkat ke 2 terbawah yakni di posisi ke 25.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *