Potensi Solo Besar Untuk Kembangkan Ekonomi di Bidang Tekstil

TEKSTILPOST.ID – Pemerintah Kota Surakarta menyatakan Solo memiliki potensi besar di bidang tekstil, yang salah satunya terlihat dari banyaknya industri batik di daerah tersebut.

“Kota Solo sendiri merupakan kota batik terbesar di Indonesia,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surakarta Ahyani pada kegiatan Solo Textile Mart 2022 di Solo, Kamis (17/3/2022).

Ia mengatakan keberadaan Kampung Batik Laweyan dan Kauman menjadi bukti bahwa industri tekstil termasuk batik dapat menjadi komoditas belanja bagi masyarakat, khususnya wisatawan. “Dalam hal ini, komoditas tekstil jadi tumpuan utama industri batik dan turunannya, seperti fashion kriya perca maupun aksesoris hingga dekorasi interior,” katanya.

Meski demikian, diakuinya, saat ini muncul keluhan dari perajin batik terkait kenaikan harga bahan baku menyusul karena kurangnya pasokan bahan baku kain khususnya bagi industri batik. Ia mengatakan kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh perajin batik tetapi juga pelaku industri komoditas tekstil yang lain. “Harus dipahami bahwa ini terjadi tidak hanya di Indonesia tetapi juga hampir di seluruh dunia karena gagal panen kapas di Amerika dan negara penghasil kapas dunia lainnya,” katanya.

Menyikapi kondisi tersebut, salah satu upaya yang dilakukan Pemkot Surakarta adalah dengan menyelenggarakan Solo Textile Mart dengan tema Lets Talk About Textile yang diharapkan menjadi ajang diskusi nasional untuk para pihak sumber daya industri tekstil. “Oleh karena itu, saya berharap diskusi ini dapat memberikan solusi untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku tekstil. Harus ada kolaborasi dengan para pihak untuk mengembangkan budidaya kapas mandiri sebagai upaya memenuhi pasokan kapas untuk komoditas kain bagi pelaku industri batik dan turunannya,” katanya.

Pihaknya juga berharap ke depan ada dukungan dari pemerintah pusat terkait kebijakan nasional dalam mendukung budidaya kapas secara mandiri. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Surakarta Wahyu Kristina mengatakan solusi kelangkaan kapas tersebut dengan cara budidaya kapas.

“Selain mencari solusi diharapkan juga tercipta jejaring dan penguatan kolaborasi antara pemangku kebijakan dengan pelaku industri tekstil dan turunannya,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *