Bappenas Ajak Industri Gunakan Konsep Fashion Sirkular

TEKSTILPOST.ID – Selama dua tahun terakhir, pandemi Covid-19 telah menjadi titik balik industri fashion nasional. Konsep fesyen sirkular atau circular fashion yang saat ini mulai dikenal, mendorong masyarakat untuk lebih berkesadaran dalam memperhatikan fungsi, dan mengutamakan kualitas produk fashion.

Fesyen sirkular (circular fashion) bisa diartikan sebagai produk mode yang dirancang, bersumber, diproduksi, dan dilengkapi dengan tujuan memperpanjang manfaat dari sebuah rantai produksi dan konsumsi sehingga bisa menggunakan sumber daya dengan lebih efisien (resource efficiency). Dengan kata lain, penerapan fesyen sirkular mampu meminimalkan limbah dan polusi dari industri tekstil.

Deputi Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Arifin Rudiyanto mengatakan, Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah tekstil atau setara dengan 12 persen dari limbah rumah tangga, yang mana menurut data dari SIPSN KLHK per tahun 2021.

“Kontribusi limbah rumah tangga terhadap komposisi sampah keseluruhan mencapai 42,12 persen . Namun dari keseluruhan limbah tekstil tersebut, hanya 0,3 juta ton limbah tekstil yang didaur ulang,” kata Arifin melalui siaran pers, Rabu (23/2/2022).

Dia mengungkapkan, sadar akan dampak negatif fesyen cepat yang berpengaruh terhadap lingkungan hidup, kini semakin banyak pihak yang tergerak untuk memperlambat laju limbah tekstil melalui fesyen lambat (slow fashion) yang mengutamakan pemilihan bahan dan proses produksi yang ramah lingkungan, dan menggunakan material berkualitas tinggi.

“Hal-hal sederhana ini mampu memperpanjang usia pakai pakaian. Konsep fesyen lambat akan membuat industri fesyen berjalan selaras dengan konsep ekonomi sirkular. Ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang merupakan kerangka ekonomi untuk memperpanjang siklus hidup dari suatu produk, bahan baku dan sumber daya yang ada, sehingga bisa dipakai selama mungkin,” jelas Arifin.

Selain menimbulkan limbah, tingginya produksi pakaian dalam waktu singkat juga berdampak terhadap pencemaran kualitas lingkungan. Pengolahan dan pewarnaan tekstil mencemari 20 persen air di kawasan industri.

Limbah pada air mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri dan arsenik, tetapi juga limbah rumah tangga lainnya seperti sampah organik dari sisa-sisa makanan, sampah anorganik seperti plastik dan kaleng, serta bahan kimia dari deterjen dan batu baterai yang membahayakan kehidupan makhluk hidup dalam air maupun masyarakat yang tinggal di sekitar aliran air.

Dalam studi yang dilakukan Bappenas dijelaskan bahwa ekonomi sirkular lebih dari sekadar pengelolaan limbah melalui daur ulang, tetapi juga meliputi pengelolaan sumber daya alam yang mencakup keseluruhan proses produksi, distribusi, dan konsumsi dari hulu hingga ke hilir rantai pasok.

“Apabila ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam industri tekstil yang berkaitan erat dengan fesyen di Indonesia, limbah tekstil akan berkurang sebanyak 14 persen dan meningkatkan daur ulang limbah tekstil sebanyak 8 persen,” ungkapnya.

Kini, siklus daur ulang pengelolaan sampah yang awalnya dikenal dengan 3R (reduce-reuse-recycle), dalam ekonomi Sirkular telah diuraikan lebih jauh menjadi 9R, yaitu Refuse-Rethink-Reduce-Reuse-Repair-Refurbish-Remanufacture-Repurpose-Recycle–Recovery.

Direktur Eksekutif dari Greeneration Foundation, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup Vanessa Letizia mengatakan, penerapan 9R dalam industri tekstil dan penggunaan produk tekstil merupakan sebuah siklus kebiasaan untuk tampil gaya yang sejalan dengan tanggung jawab untuk merawat bumi.

Bekerja sama dengan Kementerian PPN/BAPPENAS dan Pemerintah Kerajaan Denmark dalam usaha mengkomunikasikan ekonomi sirkular kepada masyarakat Indonesia, Vanessa menekankan agar konsumen bisa lebih jeli dalam memilih produk fashion. Tentunya tidak mengikuti tren saja, tapi memiliki daya guna dan nilai lingkungan.

“Dengan melihat faktor tersebut, konsumen juga harus semakin jeli meneliti produk yang dibelinya, berusaha sebisa mungkin memperpanjang daya guna tekstil, dan bahkan memahami kandungan bahan baku tekstil yang tidak berbahaya untuk menghindari pencemaran oleh limbah tekstil,” jelas Vanessa.

Penerapan ekonomi sirkular, menaungi lima sektor prioritas, yaitu makanan dan minuman, tekstil, konstruksi, grosir dan perdagangan eceran/retail (terfokus pada kemasan plastik), serta peralatan listrik dan elektronik. Ekonomi sirkular akan mendorong pembangunan ekonomi dan pola industri yang lebih berkelanjutan.

Langkah-langkah ekonomi sirkular yang diterapkan pada industri tekstil bukanlah sekadar manajemen pengelolaan limbah, melainkan manajemen pengelolaan sumber daya. Produksi tidak lagi mengambil bahan mentah dari alam, tetapi mendaur ulang materi yang sudah pernah diolah sehingga apabila diakumulasikan, akan terjadi penghematan modal dan sumber daya.

“Industri fashion harus terus berkomitmen untuk menghadirkan produk-produk yang tidak hanya memperkaya penampilan, tapi juga merombak tampilan bumi menjadi lebih layak huni. konsumen juga diharapkan semakin konsisten memilih produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan sehingga seluruh mendukung pertumbuhan ekonomi yang berwawasan lingkungan,” tegas Vanessa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *