Kita Miskin di Negeri Yang Subur

TEKSTILPOST.ID – Indonesia di mata dunia dikenal dengan negeri subur dan agraris yang memiliki banyak komoditas yang dibutuhkan oleh banyak Negara, selain keindahan dan budaya masyarakatnya, kekayaan sumber daya alam negeri Indonesia ini sangat melimpah, mengingat sejarah kelam bangsa Indonesia terdahulu saat dijajah oleh bangsa asing yang sudah tentu karena melihat kayanya bangsa ini.

Tahun 2018 Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut Indonesia sebagai negara yang paling sukses menjalankan program percontohan minapadi di tingkat Asia Pasifik. Sedangkan Posisi Indonesia dalam Indeks Ketahanan Pangan Global 2020 (Global Food Security Index 2020) turun dari posisi 62 ke posisi 65, dari total 113 negara. Tidak hanya posisi dalam indeks, posisi Indonesia dalam beberapa indikator juga tidak terlalu bagus. Indonesia berada di posisi ke-55 pada indikator keterjangkauan, posisi ke-34 pada kategori ketersediaan serta posisi ke-89 pada kategori kualitas dan keamanan.

Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, berdasarkan definisi Food and Agriculture (FAO) terdapat empat pilar dalam ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, akses atau keterjangkauanbaik secara fisik dan ekonomi, utilisasi atau keragaman (gizi, nutrisi dan keragaman) dan stabilitas atau keberlangsungan.

Menyikapi hal ini Ketua Fraksi PDIP DPRD Provinsi Jawa Barat saat ditemui rekan media di kantornya ikut mengiyakan, menurutnya bahwa kondisi ketahanan pangan Indonesia bisa jadi sedang menurun hal ini tentu mengacu pada kondisi lokal, di Jawa Barat sendiri saat ini permasalahan subsidi pupuk, modal Kerja, tengkulak, dan kepastian harga jual komoditas bisa jadi indicator menurunnya produktifitas petani, “kalau berbicara ketahanan pangan ini kan kita harus melihat bagaimana kondisi petani kita saat ini, produktifitas petani kita kan masih banyak yang perlu ditunjang agar naik produktifitasnya” ucap Memo Hermawan.

Beliau bercerita saat dahulu menjabat menjadi kepala daerah Kabupaten Garut, beliau sempat menerima penghargaan Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN) tahun 2008 dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono penghargaan ini diberikan kepada Kepala Daerah yang mampu meningkatkan Produksi Padi diatas 5% per tahun, sementara Kabupaten Garut saat dipimpinya berhasil meningkatkan produksi sebesar 6,91% dari tahun sebelumnya. Keberhasilan ini diakui oleh Kang Memo karena ada keseriusan pemerintah untuk meningkatkan produktifitas petani dan juga menunjang kebutuhan para petani mulai dari modal kerja hingga stabilitas harga yang dapat menguntungkan para petani.

Oleh : Santri Agung Wardana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *