Batik Cap Sepi Peminat Akibat Pandemi

TEKSTILPOST.ID – Usaha batik cap di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu sedang mengalami penurunan. Itu semua karena dampak pandemi Covid-19. Menurunnya itu, karena anjloknya kedatangan wisatawan asing.

Penegasan itu disampaikan salah satu pemilik usaha batik cap, Hartono, 42, asal Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Pria yang sebelumnya bekerja di pabrik konveksi di Pulau Dewata itu menyebut batik hasil produksinya biasa dikirim ke Bali. “Selain untuk pakaian, biasanya dibeli wisatawan asing di Bali,” ungkap Hartono, Senin. (20/9).

Setelah jumlah wisatawan asing merosot akibat pembatasan dampak virus korona, terang dia, penjualan kain batik cap miliknya semakin merosot. “Sekarang ini, satu bulan hanya bisa mengirim empat sampai lima lusin kain batik,” cetusnya.

Di Surabaya, kondisi persebaran virus Covid-19 dimanfaatkan para pelaku usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk kembali bangkit. Pelaku UMKM binaan Kecamatan Pabean Cantian Pristiwi Marhaenika, kini giat mempromosikan batik celup buatannya. Dia menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk memasarkan produk itu.

’’Efek PSBB atau PPKM sangat terasa. Sebulan paling yang terjual hanya 2–3 batik,’’ katanya.

Kecamatan Pabean Cantian membantu dalam bidang promosi. Heni, sapaan Pristiwi Marhaenika, mulai mengembangkan usahanya. Dari penjualan offline, kini Heni beralih ke penjualan online. Dia juga bekerja sama dengan sejumlah hotel. Kini batik merak buatannya telah dipasarkan ke salah satu hotel di seputaran tempat tinggalnya.

’’Alhamdulillah sudah produksi lagi walaupun kondisi belum kembali normal. Tapi, yang penting, pendapatan mulai meningkat,’’ ujar Heni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *