Industri Tekstil Majalaya Berangsur Pulih Akibat Pandemi

TEKSTILPOST.ID – Pandemi Covid-19 memukul industri  tekstil maupun garmen di Kabupaten Bandung . Tidak sedikit di antara perusahaan tersebut  yang kolapsn karena produknya  tak laku dipasaran akibat sepinya pasar. 

“Banyak di antara perusahaan yang memilih melakukan efisiensi, dari mulai tenaga kerja maupun mengurangi produksi hingga jam kerja bagi para pekerjanya. Tak sedikit pula di antara pengusaha yang menghentikan operasional perusahaannya karena tak mampu menanggung beban biaya operasional yang cukup besar, karena tak sebanding dengan anggaran atau pendapatan yang masuk,” kata Pemerhati Pertekstilan Majalaya Kabupaten Bandung Yus Sugianto kepada galajabarb di Desa Tanggulun,  Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Selasa (21/9).

Setelah hampir  1,5 tahun lebih pandemi Covid-19 berlangsung, imbuh Yus Sugianto, sejumlah perusahaan tekstil saat ini secara perlahan-lahan mulai bangkit.

Karena pemerintah memberikan kebijakan kepada pihak pengusaha untuk mengoperasional perusahaannya, meski 50 persen dari kapasitas perusahaan tersebut.

Selain itu pemasaran barang mulai bisa keluar masuk kendaraan ke berbagai daerah, meski sebelumnya ada pembatasan keluar masuk kendaraan.

Selain itu pertokoan sebagai pasar produk tekstil sempat ditutup karena bagian dari ikhtiar pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona di pusat keramaian.

“Saat ini, saya perhatikan perteksilan Majalaya baru mau bangkit 75 persen, perkembangan baik itu terjadi secara perlahan-lahan,” kata Yus Sugianto.

Ia berharap melihat kondisi perkembangan baik seperti itu, semua pihak bisa saling mendukung.

“Minimal bisa mempertahankan kondisi kondusivitas di lingkungan perusahaan, supaya perkembangan ekonomi di sektor pertekstilan tetap berjalan seperti biasa,” katanya.

Ia juga mengaku bersyukur karena kondisi pertekstilan di Majalaya tidak sampai banyak yang bangkrut, meski ada di antara perusahaan yang menghentikan sementara waktu usahanya. 

“Kalau banyak industri tekstil yang tutup atau gulung tikar, ya kasihan juga kepada masyarakat pekerja karena mereka  menjadi pengangguran,” ungkapnya.

Menurutnya, lesunya perusahaan tekstil juga akan berdampak pada perekonomian di berbagai sektor. Termasuk pasar tekstil pun terkena imbas.

“Pasar, siapa yang mau beli. Kalau peredaran uang tidak jalan,” katanya. 

Yus pun berharap kepada sejumlah pihak untuk menahan diri dan jangan mengganggu perusahaan yang mau bangkit setelah terkena dampak pandemi.

“Saat ini, industri tekstil mulai bangkit, walaupun  kenaikannya bertahap,” imbuhnya 

Untuk diketahui oleh banyak pihak, ia menerangkan, pertekstilan Majalaya itu sebagai cikal bakal pertekstilan di  Indonesia. 

“Untuk itu, pajak cukup besar masuk ke kas negara, sehingga pelaku usaha tekstil ikut andil dalam pembangunan daerah dan nasional. Kami berharap semua pihak saat ini untuk saling mengerti,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *