Alasan Sritex Minta Perpanjangan Restrukturisasi 15 Tahun

TEKSTILPOST.ID – Emiten tekstil terintegrasi PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) mengajukan proposal perdamaian ke kreditur pada Selasa (7/9/2021). Dalam proposal tersebut, SRIL meminta perpanjangan restrukturisasi hingga 15 tahun.

Head of Corporate Communication SRIL Joy Citradewi membenarkan SRIL meminta perpanjangan restrukturisasi hingga 15 tahun. Sritex mengambil waktu jatuh tempo yang panjang karena mengantisipasi dan mempertimbangkan kelanjutan usaha jangka panjang, menginat faktor eksternal yang masih belum menentu hingga beberapa tahun ke depan.

Menurutnya, dampak pandemi Covid-19 masih terjadi hingga hari ini, yang terlihat dari market demand yang melemah dan isu logistik global yang belum menunjukkan pemulihan.

“Butuh waktu pemulihan yang cukup panjang, terlihat dari keputusan OJK untuk memperpanjang masa relaksasi atau restrukturisasi kredit atau pembiayaan perbankan,” ujar Joy, Selasa (14/9/2021).

Dia melanjutkan, dengan skema yang diajukan, pihaknya berharap pemulihan perusahaan dapat memberikan aspek keberlanjutan kepada keuangan perusahaan, seiring membaiknya kondisi makro dalam negeri dan negara tujuan ekspor lainnya.

Adapun seperti dikutip dari Reorg, Selasa (14/9/2021), Sritex menyampaikan porsi utang “tidak berkelanjutan” perseroan senilai US$753 juta dan refinancing sebesar US$850 juta atau Rp12,12 triliun, baru bisa diselesaikan pada tahun ke-15 tahun, berdasarkan proyeksi arus kas perusahaan.

Senior notes perseroan yang berjumlah US$150 juta dengan bunga 6,875 persen dan jatuh tempo pada 2024, serta senior notes sebesar US$225 juta dengan kupon 7,25 persen yang jatuh tempo pada 2025, akan ditukar dengan kombinasi obligasi baru bertenor 15 tahun.

Selain itu, Sritex juga mengusulkan untuk membatalkan semua bunga, denda, dan biaya lain terkait utang hingga Sritex ditetapkan berada dalam posisi PKPU sementara.

Berdasarkan draft usulan penyelesaian utang, Sritex akan menukar obligasi US$150 juta yang akan jatuh tempo 2024, dengan dua obligasi baru.

Obligasi baru ini senilai US$66 juta bertenor 15 tahun, dengan kupon antara 0,75 persen hingga 2,5 persen per tahun atau Seri A dan Seri B senilai US$84 juta bertenor 15 tahun.

Demikian dengan obligasi senilai US$255 juta yang jatuh tempo pada 2025. Sritex akan menukar obligasi tersebut dengan dua obligasi baru.

Pemegang obligasi akan menerima dua obligasi baru bertenor 15 tahun senilai US$100 juta atau Seri A, dengan kupon antara 0,25 persen hingga 2,5 persen per tahun. Sementara Seri B, merupakan zero coupon notes senilai US$125 juta bertenor 15 tahun.

Sumber : Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *