PLB Biang Kerok Bocornya Impor E-Commerce

TEKSTILPOST.ID – Produk impor murah banyak beredar di e-commerce dengan produk dibanderol dengan harga tidak wajar, bahkan tergolong terlalu sangat murah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ada subsidi harga untuk mematikan pelaku UMKM dalam negeri.

E-commerce yang memperdagangkan produk murah yang diperdagangkan tersebut masuk melalui Pusat Logistik Berikat (PLB). Kalangan pengusaha pun mengakui bahwa PLB jadi pintu masuk celah barang impor ke pasar.

PLB adalah tempat penimbunan berikat untuk menimbun barang asal luar daerah pabean clan/ atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean, dapat disertai 1 (satu) atau lebih kegiatan sederhana dalam jangka waktu tertentu untuk dikeluarkan kembali.

“Betul sering PLB digunakan masuknya barang barang ilegal tersebut. Padahal tujuan Fasilitas PLB untuk mempercepat dan memudahkan pengecekan barang impor tersebut,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno, Jumat (28/5/21).

Masuknya barang ilegal tentu perlu menjadi perhatian. Ada potensi negara kehilangan pajak besar karena barang yang masuk itu lolos tanpa prosedur yang jelas. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin pendapatan negara yang hilang kian besar.

Dua aspek yang perlu menjadi perhatian adalah soal pengetatan sistem dan pengawasan kepada petugas di lapangan. Bukan tidak mungkin ada petugas yang bermain mata demi mendapatkan keuntungan untuk pribadi, Benny pun tidak menampik dua faktor itu penyebab PLB bocor.

“Sangat mungkin (faktor sistem dan petugas),” katanya.

Sumber yang diterima oleh Tekstil Post, PLB ini merupakan kawasan pabeanan dan sepenuhnya berada dibawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjelaskan bahkan sebelum viral di publik soal ini sudah dicari solusi bersama dengan Kementerian Perdagangan mengenai predatory pricing di e-commerce agar tak terus terjadi Selain itu di beberapa aturan Menteri Perdagangan juga sudah ada aturan sistem elektronik untuk memprioritaskan produk UMKM ketimbang produk luar negeri.

Ia membenarkan memang ada kasus terjadi dimana penjualan barang impor China di salah satu platform digital dengan harga sangat murah, yang membuat produk UMKM dalam negeri kalah saing.

“Ini berbahaya bom waktu bagi perdagangan pasar digital. Kami sudah berkomunikasi dengan platform digital tadi dan dengan mendag memang kayaknya kita perlu mengatur soal diskon harga. Saat ini ada kekosongan regulasi itu,” jelas Teten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *