Pertumbuhan Angkatan Kerja Tak Seimbang Dengan Penyerapan Tenaga Kerja

TEKSTILPOST.ID – Covid-19 tidak hanya membawa dampak negatif namun juga membawa dampak positif untuk dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Dengan dampak negatif yang timbul, bukan berarti tidak ada solusi .

Ketua Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Slamet Kuswanto mengatakan, pandemi ini membuat distrupsi bagi industri, khususnya tekstil karena banyak yang dirumahkan.

“Dapat diakui bahwa Covid-19 telah menambah beberapa permasalahan dalam ketenagakerjaan di Indonesia. Serikat pekerja hadir untuk mendampingi seluruh pekerja di Indonesia dalma menghadapi permasalahan ketenagakerjaan yang ada,” kata Slamet pada webinar UKM Keilmuan AK-Tekstil Solo, Sabtu (20/3/21).

Dia menambahkan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh serikat pekerja adalah pertumbuhan angkatan kerja yang tidak seimbang dengan penyerapan tenaga kerja.

“Pemerintah sudah memberikan solusi berupa pengesahan UU Cipta Kerja. Namun, pro dan kontra terus bermunculan. Banyak pihak yang mempermasalahkan adanya penggabungan beberapa poin undang-undang yang dilakukan pemerintah di dalam UU Cipta Kerja,” ucap dia.

Slamet menjelaskan, serikat pekerja tidak menghalangi pengesahan UU Cipta Kerja ini, namun jangan sampai undang-undang terkait dengan investasi dan penurunan angka pengangguran malah merugikan hak-hak tenaga kerja yang sudah ada saat ini.

Staf Biro Perencanaan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) One Herwantoko mengucapkan, industri tekstil dapat memanfaatkan market place untuk menjaga aliran kas tetap berjalan. Hal ini agar pekerja tetap dipekerjakan di dalam industrinya.

“Ketika pasaran membutuhkan sesuatu, market place tersedia berbagai produknya. Di China, market place-nya memadukan sistem konvensional dengan sistem digital. Sedangkan di Indonesia, mata rantainya masih bergerak di supply stock, bukan reply on demand,” katanya.

Dia juga menambahkan bahwa efek digitalisasi mengalami pergeseran bagi dunia kerja yaitu perubahan skill yang dibutuhkan.

“Tenaga kerja kini dituntut untuk berpikir kreatif, kritis, dan orisinal. Soft skill inilah yang akan mendorong perkembangan technical skill para tenaga kerja,” tutup One.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *