Industri Tekstil Minta Pemerintah Serius Dalam Isu Mr.Hu

TEKSTILPOST.ID – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) meminta pemerintah serius dalam menertibkan fenomena Mr. Hu yang belakangan ramai menjadi pembicaraan linimasa warga Twitter dengan tagar #SellerAsingBunuhUMKM.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta mengatakan produsen TPT baik di hulu atau hilir tidak begitu khawatir jika permintaan masyarakat masih stagnan karena kondisi Covid-19 dan sebagianya. Sementara yang paling dikhawatirkan adalah produk impor barang jadi dan murah.

“Kalau impor dan murah kami bakal habis banyak, makanya yang online-online ini seharusnya segera dibereskan. Pasalnya, pesaing utama di online adalah IKM yang selama ini menyerap 60 persen produk kain lokal,” katanya, Kamis (25/2/2021).

Redma mengemukakan jika IKM TPT yang diserang dan membuat mereka sepi pembeli hingga stop produksi tentu akan berdampak hingga ke industri hulu. Sementara jika IKM bisa diselamatkan dan penyerapan produk kain terus meningkat maka juga akan mengungkit industri TPT hingga ke hulu.

Menurut Redma, keseriusan penanganan produk impor murah dari ritel ini juga harus segera dilakukan mengingat saat ini terjadi pergeseran porsi pembelian oleh konsumen yang biasanya membeli melalui toko konvensional.

“Porsi pembelian melalui online menjadi besar karena saat ini ritel seperti mall masih sepi kunjungan,” ujarnya.

Sisi lain, saat ini industri sedang menghadapi kondisi kenaikan bahan baku seperti PTA karena harga minyak dunia yang terus naik. Bahkan, produsen hulu TPT sudah mencatat adanya kenaikan hingga 15 persen sejak awal tahun ini.

Redma khawatir belakangan penjualan hilir yang sepi juga akibat produsen sudah menaikkan harga barang jadi. Pasalnya, kenaikan bahan baku 15 persen bisa mendorong kenaikan barang jadi antara 3-4 persen karena dalam struktur biaya bahan baku mengambil porsi hingga 55 persen.

“Jadi utilisasi kami masih tahan di level 80 persenan. Sebenarnya ramai order sampai awal Februari kemarin juga untuk persiapan Lebaran tetapi harus dilihat lagi sampai minggu ini karena seharusnya masih ada kenaikan untuk Lebaran,” kata Redma.

Sumber : Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *