Pengusaha Tekstil Minta Adanya Proteksi Pasar Dari Serbuan Impor

TEKSTILPOST.ID – Para pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) mengharapkan adanya proteksi sementara dari serbuan produk impor di masa pandemi Covid-19 ini. Proteksi diperlukan supaya ekosistem industri TPT bisa melakukan konsolidasi internal guna menghadapi persaingan pasca pandemi. Diharapkan, dengan adanya konsolidasi, industri TPT nasional akan bisa memanfaatkan peluang  ekspor ke Uni Eropa dan Amerika yang saat ini menolak produk dari China.

“Pasar ekspor terbuka lebar. AS mulai order TPT ke Indonesia karena sedang perang dagang dengan China. Demikian juga dengan Uni Eropa. Ini peluang yang sangat bagus bagi industri tekstil kita,” ujar tokoh pengusaha tekstil Ade Sudrajat saat membuka diskusi ekonomi yang berlangsung secara daring, Rabu (27/01/2021) malam.

Selain Ade Sudrajat, pembicara lainnya adalah Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Pusat, Rizal Tanzil, Kadisindag Jabar M. Arif Soedjayana, dan Wakil Ketua Harian Komite Pemulihan Ekonomi Jabar Prof. Ina Primiana dengan moderator pengamat ekonomi Acuviarta Kartabi.

Menurut Ade, Vietnam saat ini memiliki peluang yang sangat besar untuk melakukan ekspor ke Uni Eropa karena mendapatkan bea masuk nol persen. Untuk itu, ia menyarankan supaya pemerintah dalam hal ini Menteri Perdagangan segera merealisasikan perdagangan bebas dengan Uni Eropa sehingga industri TPT Indonesia memiliki daya saing yang baik.

Di saat bersamaan, industri TPT perlu melakukan konsolidasi internal supaya bisa meningkatkan persaingan dengan meningkatkan SDM yang memiliki kompetensi, lebih professional, dan lebih produktif.

“Juga perlu melakukan penggantian mesin khususnya pencelupan dan printing. Diharapkan, dengan upskilling dan peremajaan mesin, industri TPT bisa kembali bangkit seperti sebelum pandemi bahkan lebih baik lagi,” ujar Ade.

Dalam kesempatan yang sama, Sekjen API Rizal Tanzil setuju dengan usulan proteksi sementara. Sebab, proteksi akan membuat ekosistem industri TPT Indonesia makin kokok. Di masa pandemi saja, ekspor masih tetap tinggi meski waktu efektif hanya enam bulan karena diberlakukannya PSBB. Hanya saja, kebutuhan dalam negeri justru dipenuhi dengan impor.

“Salah satu faktor yang membuat produk impor lebih murah ialah berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan untuk importir. Dan di negara asalnya, barang impor ini mendapatkan berbagai perlakuan khusus. Di China diberikan tax rebate 8%-13% di China, diskon tarif listrik, FABA yang tidak termasuk kategori B3 di India. Inilah yang menyebabkan kita kalah bersaing dalam harga,” ujar Rizal yang juga anggota Divisi Manufaktur Komite Pemulihan Ekonomi Jabar ini.

Menurut Rizal, upah juga menjadi kendala dalam persaingan karena menjadi bagian dalam perhitungan harga. Tingginya upah buruh di Jabar telah membuat beberapa perusahaan melakukan relokasi ke Jawa Tengah.

Meski demikian, menurut Rizal, API tetap optimistis TPT Jabar akan mampu bersaing bersama daerah lain saat maupun sesudah pandemi Covid-19. Caranya dengan menggenjot industri berbasis teknologi baik sektor hulu maupun hilir.

“Solusi untuk Jabar pengembangan TPT berbasis teknologi memiliki nilai lebih banyak.  Karena tersentuh teknologi lebih update. Juga produk TPT Jabar perlu menyeimbangkan antara hulu dan hilir sehingga akan mampu bersaing,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *