Industri TPT Mulai Ekpansi Dengan Menambah Mesin

TEKSTILPOST.ID – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) akhirnya mulai melakukan ekspansi setelah terpuruk bertubi-tubi akibat banjir produk impor hingga krisis pandemi yang menekan kinerja produksi

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja mengatakan secara data riil kinerja pada 2020 memang belum dirilis tetapi secara survei internal anggota API pada kuartal IV/2020 utilisasi sudah menunjukkan peningkatan yang baik. Sementara sebelum itu ditekan Covid-19, utilisasi rata-rata industri TPT hanya dikisaran 20 persen.

Hal itu karena sejumlah toko-toko tutup dan sepi, juga lockdown sejumlah negara yang membuat ekspor terganggu. Namun, upaya pemerintah khususnya Kementerian Perindustrian yang mulai menata kembali perniagaan impor sudah mulai membuahkan hasil.

“Akhir tahun lalu sudah masuk di atas 15 mesin printing dan akan ditambah 36 mesin yang sudah kontrak dan masuk pada kuartal I/2021 ini. Penambahan mesin itu terjadi tentu karena utilisasi sudah full dan ini tidak terjadi pada periode 2018 hingga 2019,” katanya dalam diskusi virtual, Selasa (20/1/2021).

Jemmy berpendapat upaya menahan laju importir nakal juga mulai terlihat dari hasil neraca perdagangan industri TPT yang surplus US$ 3,5 miliar per Oktober 2020 sedikit lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya di angka US$3 miliar.

Meski demikian, setidaknya masih ada empat tantangan yang dihadapi industri TPT dalam negeri saat ini.

Pertama, melemahnya demand pasar dalam negeri karena pangsa pasar yang direbut barang impor akibat regulasi kemudahan impor. Kedua, konsumsi produk dalam negeri rendah karena didominasi produk impor. Ketigaunleveled playing field antara Indonesia dengan negara pesaing atau China, India, Bangladesh, dan Vietnam. Keempat, perlunya peningkatan investasi di sektor hulu produsen bahan baku untuk mengrangi impor.

“Kami juga telah mengusulkan pengetatan pemberian izin pemohon impor dengan mewajibkan lampiran tagihan listrik dan BPJS sebagai upaya minimalkan kecurangan dan penerima izin impor bukan pengusaha yang hanya memiliki ruko,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *