Para Pengusaha Tekstil Minta Perjanjian Dagang Harus Dievaluasi

TEKSTILPOST.ID – Asosiasi dan ahli tekstil melakukan konferensi pers usai bertemu dengan Menteri Perindustrian. Mereka meminta agar pemerintah mengevaluasi perjanjian dagang dengan negara lain.

“Kami bukan anti perjanjian dagang, tapi harus dihitung cermat,” kata Redma Gita Wirawasta selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (14/1/2021).

Sebab, katanya, terdapat sejumlah perjanjian yang dinilai dapat merugikan industri tekstil di Tanah Air. Selain dari APSyFI, Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang hadir dalam konfrensi pers tersebut juga menyuarakan hal yang sama.

Lebih lanjut, Redma mengatakan kerja sama perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-Cina adalah salah satu faktor yang membuat industri tekstil lokal mulai terpuruk. Lantaran, kegiatan impor ini dapat dilakukan dengan bea masuk 0 persen. Sehingga, industri lokal harus berhadapan langsung dengan industri tekstil Cina. Hal ini, menurut Redma dapat membuat neraca perdagangan Indonesia Cina sekarang menjadi defisit. Dari semula yang sempat surplus.

Sejak tahun lalu, persoalan semacam ini sebenarnya juga pernah disampaikan oleh pengusaha, karena maraknya produk impor asal Cina dan Turki, yang membuat produk lokal kurang terserap di pasaran. Kali ini giliran pasar karpet dan sajadah yang terganggu akibat persaingan harga yang tak seimbang. Rizal Tanzil Rakhman selaku Sekretaris Eksekutif API mengatakan setiap tahun sejak 2017, impor karpet dan sajadah mengalami kenaikan mencapai 25,2 persen.

“Sekarang utilisasi produsen karpet dan sajadah tersisa 40 persen, banyak yang telah mengurangi produksi dan pekerjanya karena kondisi ini ditambah dengan tekanan Covid-19,” kata Rizal kala itu dalam keterangan resminya.

Ia lalu memaparkan bahwa harga produk karpet dalam negeri lebih mahal dibanding dengan produk karpet asal Cina, yang biasanya masuk ke Indonesia dengan harga US$ 2,5 per kilogram, dan produk asal Turki senilai US$ 1,3 per kg. Harga produk tekstil ini disebutnya lebih murah 40 persen dibanding produk tekstil dalam negeri. (Alvin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *