Soal RCEP: Industri Sepatu Optimis, Industri Tekstil Pesimis

TEKSTILPOST.ID – Kehadiran RCEP ibarat simalakama bagi sejumlah industri manufaktur Indonesia. Meski diyakini bisa memberi akses pasar dan mendorong penguatan partisipasi dalam GVC, di sisi lain terdapat pula sektor yang akan tertekan cukup dalam.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman menilai RCEP ibarat kartu mati bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Tanah Air. Akses pasar yang sama bagi 15 negara peserta diyakini bakal semakin menggerus ekspor Indonesia.

“Selama ini Indonesia punya akses ke Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru karena punya kesepakatan perdagangan bebas dengan mereka. Namun dengan RCEP, China juga punya akses,” kata Rizal dalam siaran pers, di Jakarta Selasa (1/12).

Rizal mencatat bahwa dari sisi produk tekstil, China telah memiliki keunggulan absolut dengan dominasi mereka dalam rantai nilai produk tekstil. Dia mengatakan daya saing China telah berada jauh di atas Indonesia.

“Dengan RCEP China bisa dapat tarif yang juga 0 persen. Apakah Indonesia bisa bersaing dengan kondisi ini? Saat ini saja pasar nasional sudah digempur impor dari China,” lanjutnya.

Rizal mengaku pelaku industri TPT tidak bisa berbuat banyak dalam menyikapi hal ini. Usulan dari pelaku usaha sejatinya telah disampaikan, tetapi Rizal mengatakan bahwa usul tersebut tidak terakomodasi lantaran penyampaian yang terlambat.

Lain halnya dengan tekstil, industri persepatuan justru membidik optimalisasi pasar seperti Australia dan Selandia Baru yang juga tergabung dalam blok dagang ini.

Meski demikian, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie tak memungkiri bakal muncul persaingan untuk produk sepatu dengan segmentasi kelas menengah dan menengah ke bawah.

“Untuk sepatu olahraga kita sudah unggul, hanya saja untuk pasar domestik segmen menengah dan menengah ke bawah berpotensi bersaing dengan sepatu murah impor dari China dan Vietnam,” kata Firman.

Firman mengatakan pelaku usaha akan tetap mengejar potensi pasar yang ada, terutama ke China yang selama ini menjadi destinasi ekspor terbesar. Dia meyakini pemulihan ekonomi global yang dimotori China bakal memperbesar potensi permintaan dari negara tersebut.

“Selama ini China jadi pasar terbesar kita dan sepanjang 2020 ekspor ke sana juga tumbuh. Potensi penguatan pasar sepatu kita ke sana akan semakin besar,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *