Unsoed Berikan Tiga Alternatif Untuk Tangani Limbah Tekstil

TEKSTILPOST.ID – Peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Jenderal Soedirman (Unsoed), menawarkan tiga konsep untuk penanganan limbah untuk diterapkan di Kota Pekalongan dalam rangka menangangi limbah tekstil yang selama ini dinilai sudah mencemari sungai-sungai di Kota Pekalongan.

Ketiga konsep yang telah dipatenkan tersebut yakni filter bertingkat (portable) yang bisa masuk ke gang-gang sempit berskala kecil hingga besar dengan bahan aktif jamur. Kemudian, kincir air dengan bahan aktif jamur juga yang diaplikasikan untuk ditampung dalam suatu areal terdekat (RT) sebelum dibuang ke sungai untuk mengurangi konsentrasi polutan yang ada di lingkungan. Yang ketiga yaitu menggunakan bioreaktor dengan zero waste dengan hasil degradasi warna bisa digunakan untuk bioetanol dan pupuk organik cair.

“Kami menekankan para pegiat industri yang masih belum sadar betul ini bisa diperbaiki mindsetnya bahwa pembuangan limbah ke sungai sangat berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan ekosistem lingkungan mikroorganisme didalamnya. Kami berharap hasil penelitian ini bisa aplikasikan di Kota Pekalongan sebagai alternatif solusi penanganan limbah yang menjadi masalah di sungai bisa diatasi,” tutur Peneliti dari LPPM Unsoed, Ratna Setia Dewi dalam kegiatan sosialisasi, di Pekalongan, Jumat(20/11).

Wali Kota Pekalongan, Saelany Machfudz yang membuka kegiatan tersebut menyampaikan bahwa industri batik maupun tekstil yang dikelola masyarakat menyebabkan banyaknya air limbah yang dihasilkan dan mencemari sungai-sungai di Kota Pekalongan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemkot telah membangun lima buah IPAL di beberapa titik, dan menerima bantuan IPAL komunal dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai upaya menangani dan mencegah limbah agar limbah tidak dibuang langsung ke saluran air.

“Namun IPAL yang ada ini belum semuanya berfungsi dam masih kurang. Pemkot berupaya melaksanakan fasilitasi yang menjembatani seluruh kepentingan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesejahterann masyarakat. Namun, kami mengaku sulit mengendalikan bibit limbah yang mencemari sungai-sungai di Kota Pekalongan, mengingat limbah yg bermuara di Kota Pekalongan tidak berasal dari kota saja tetapi juga dari hulu, Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya, ” terangnya.

Sementara Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Anita Heru Kusumorini mengungkapkan bahwa penanganan limbah menjadi problema yang harus segera dituntaskan karena pencemaran di sungai Kota Pekalongan sudah cukup parah. Bahkan, IPAL yg dibuat oleh DLH pun dinilai belum berfungsi optimal. Menurut Anita, perlu upaya lagi agar limbah dari industri kecil dan rumah tangga bisa terolah maksimal sehingga air dari proses limbah ketika masuk ke sungai bisa bersih.

“Alhamdulillah, kami menyambut baik saat ini sudah ada penelitian dari Unsoed bekerjasama dengan PSDKP Cilacap untuk menanganai limbah perairan khususnya bidang perikanan dan kelautan. Kami berharap hasil diseminasi hasil penelitian dari narasumber yang hadir, Dr Ratna Setia Dewi ini yang juga ke depan melibatkan pula pengusaha dan CSR bisa menjadikan Kota Pekalongan ini bebas limbah dan penampungan air di longstorage dan polder jika tidak tercemar bisa dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk sumber air minum di Kota Pekalongan,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *