Sritex Minta Perpanjangan Lunasi Hutang Rp 5 T di 2024

TEKSTILPOST.ID – Perusahaan tekstil asal Solo, PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex melakukan negosiasi perpanjangan pinjaman sindikasi senilai US$ 350 juta atau setara dengan Rp 5 triliun (kurs Rp 14.000/US$) yang jatuh tempo pada 2022 diundur menjadi 2024.

Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam menjelaskan alasan perpanjangan tenor itu karena memang ada opsi untuk perpanjangan selama 2 tahun atas utang sindikasi itu. Hanya saja Welly menegaskan perpanjangan ini tidak berkaitan dengan dampak pandemi COVID-19.

“Itu untuk perpanjangan, karena tenor nya ada 3 tahun, plus opsi perpanjangan 2 tahun jadi saat ini kami sedang mengajukan permohonan untuk perpanjangan tenornya tersebut,” katanya kepada pers, di Jakarta, Senin (23/11).

Berdasarkan laporan keuangan September 2020, disebutkan ada pinjaman sindikasi dengan fasilitas US$ 350 juta dan jatuh tempo pada 2 Januari 2022. Pinjaman ini merupakan pinjaman tanpa jaminan dan tanpa komitmen.

Pinjaman ini pun mengacu pada perjanjian pinjaman 2 Januari 2019, perubahan perjanjian tanggal 20 Maret 2019 dan perubahan terakhir 9 April 2020 antara perusahaan (sebagai peminjam). Pinjaman ini disusun oleh Citigroup Global Markets Asia Limited, DBS Bank Ltd., PT Bank HSBC Indonesia serta The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (sebagai agen).

Welly menegaskan, kendati pada 2024, Sritex juga memiliki obligasi global jatuh tempo sekitar US$ 150 juta, akan tetapi negosiasi perpanjangan itu tidak akan membebani perusahaan.

Hal itu lantaran jatuh tempo kedua pinjaman tersebut tidak berdekatan. Untuk refinancing utang, dia menegaskan perseroan selalu mempersiapkan jauh-jauh hari sehingga mengurangi risiko likuiditas.

Selain itu perseroan juga memiliki banyak pilihan untuk melakukan refinancing.

Welly memaparkan, tahun ini, Sritex punya utang jatuh tempo US$ 42 juta. Tahun 2021, ada pula utang jatuh tempo US$ 33 juta.

Sementara itu pada 2023, perseroan memiliki pinjaman bank jatuh tempo US$ 3 juta dan tahun 2024 ada obligasi jatuh tempo US$ 150 juta. Sritex juga memiliki obligasi global jatuh tempo lainnya pada 2025 senilai US$ 225 juta.

“Perusahaan juga sudah mempersiapkan belanja modal [capital expenditure/capex] sebesar US$ 55 juta,” kata Welly.

“Kami selalu mempersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya Pak untuk refinancing. Sudah ada opsi dalam perjanjian kreditnya sehingga kami gunakan opsi tersebut. Kami juga mendapatkan persetujuan di awal sehingga mengamankan posisi utang maupun debt marurity profile-nya,” tegasnya.

Per September 2020, SRIL mencatatkan penjualan naik menjadi US$ 907,10 juta, dari periode 9 bulan tahun lalu sebesar US$ 895,08 juta, sementara laba bersih naik menjadi US$.73,80 juta, dari periode yang sama tahun lalu US$ 72,22 juta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *