Ekspor Tekstil Mulai Membaik pada Kuartal III-2020

TEKSTILPOST.ID – Sejumlah emiten tekstil dan garmen mencatatkan kenaikan penjualan ekspor pada periode Januari-September 2020. Ini berkebalikan dengan penjualan ekspor pada kuartal II yang terkoreksi. Sebaliknya, penjualan ke pasar lokal naik pada triwulan kedua 2020, tetapi turun pada triwulan ketiga.

Sebagai contoh, penjualan ekspor PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) pada kuartal II-2020 merosot 24,1% quarter on quarter (qoq) menjadi US$ 143,51 juta. Lalu, meningkat lagi sebesar 28,5% qoq ke US$ 184,44 juta pada kuartal III-2020. 

Sementara itu, penjualan lokal SRIL pada triwulan kedua 2020 naik 16,2% qoq lalu turun 22,7% qoq menjadi US$ 114,43 juta pada triwulan ketiga.

Corporate Communications PT Sri Rejeki Isman Tbk Joy Citradewi mengatakan, penurunan penjualan ekspor pada kuartal II-2020 disebabkan oleh banyaknya lockdown maupun pembatasan yang terjadi di pasar luar negeri SRIL. 

“Kondisi ini membuat permintaan melemah. Akan tetapi, kondisi tersebut membaik pada kuartal III-2020,” kata dia, Jumat (13/11).

Lockdown dan pembatasan yang terjadi di luar negeri membuat SRIL mengalihkan porsi penjualannya ke domestik sehingga pendapatan dari pasar lokal pada triwulan kedua tumbuh cukup signifikan. Akan tetapi, pada triwulan ketiga, porsi penjualannya kembali digunakan untuk ekspor sehingga penjualan lokal turun.

Menurut Joy, perbaikan penjualan ekspor ini turut mengerek laba bersih SRIL sehingga dapat tumbuh 10,8% qoq menjadi US$ 23,96 juta pada periode Juli-September 2020. Ini berkebalikan dengan laba bersih April-Juni 2020 yang terkoreksi 23,4% qoq.

Bernada serupa, PT Trisula International Tbk (TRIS) juga mencatatkan penurunan penjualan ekspor sebesar 43,3% qoq pada kuartal II-2020, dan hanya tumbuh 2% qoq menjadi Rp 119,55 miliar pada kuartal III-2020. 

Sebaliknya, penjualan lokal meningkat 24,2% qoq kemudian terkoreksi 17,4% qoq menjadi Rp 140,61 miliar pada kuartal III-2020.

Alhasil, TRIS sempat mencatatkan rugi bersih pada kuartal II-2020  sebesar Rp 2,15 miliar, tetapi kembali untung Rp 4,52 miliar pada kuartal selanjutnya. Sayangnya, anak usaha TRIS, yakni PT

Trisula Textile Industries Tbk (BELL) masih mencatatkan rugi bersih Rp 1,89 miliar pada kuartal III-2020 dari sebelumnya rugi Rp 2,69 miliar pada kuartal II-2020.

Direktur BELL Nurwulan Kusumawati mengatakan, hal ini dialami BELL karena masih adanya toko retail yang tutup atau terbatas jam operasionalnya. 

“Terlebih lagi, PSBB jilid dua juga diberlakukan kembali di bulan September ini sehingga membatasi operasional BELL di pasar retail,” ucap Nurwulan. Meskipun begitu, pihaknya tetap melakukan strategi lainnya melalui pemasaran secara online.

Untuk ke depannya, BELL berharap dapat membukukan kinerja positif dengan terus berinovasi membuat produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, seperti Kain Sehat. 

“Untuk pasar domestik, kami masih besar dengan mengandalkan penjualan untuk seragam dan aksesorisnya. Sementara untuk pasar ekspor kami terus mencoba untuk mencari peluang yang ada,” ungkap dia.

Direktur Utama TRIS Santoso Widjojo menambahkan, pihaknya akan terus memperluas pasar ekspor untuk produk-produk Alat Pelindung Diri (APD) berupa baju hazmat, masker non-medis, medical garment, dan protective-wear. Sejauh ini, TRIS sudah mengekspor masker non-medis ke Inggris dan Australia. 

“Untuk APD baju hazmat kami juga sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Kami sedang proses penjajakan untuk ekspor ke pasar luar negeri kami,” tutur Santoso. 

Sementara untuk lokal, TRIS masih ingin memperluas pangsa pasar seragam yang diproduksi oleh anak usahanya, yakni PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL).

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony mengatakan, sentimen ke depan yang mempengaruhi bisnis serta harga saham tekstil dan garmen masih terkait perang dagang Amerika Serikat dan China. Akan tetapi, skalanya kemungkinan akan lebih kecil dibanding masa kepemimpinan Donald Trump.

“Dengan begitu, peluang SRIL sebagai emiten berorientasi ekspor masih tergolong besar untuk menambah target penjualannya,” ucap Chris.

Faktor kedua yang mendorong kenaikan saham berasal dari sisi laporan keuangan yang masih cukup baik.

Dengan valuasi fundamental yang cukup murah, saat ini SRIL masih berpeluang menguat harga sahamnya. Ia merekomendasikan beli SRIL dengan target Rp 300 per saham.

Sumber: Kontan.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *