Pemulihan Industri Tekstil Sudah Berada di Jalur yang Tepat

TEKSTILPOST.ID – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Rakhman menilai, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sudah berada di jalur tepat untuk menuju pemulihan. API berharap industri TPT akhir 2020 hanya turun 1%.

Dia menilai, mulai ada perbaikan permintaan di pasar domestik. Dia berharap penerapan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard kain dapat berpengaruh di pasar lokal.

Selain itu, stimulus yang dikucurkan pemerintah diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat.

“Mudah-mudahan akhir tahun ini laju penurunan industri semakin berkurang. Target kita masih turun 1%,” ujar Rizal, di Jakarta, Senin (9/11).

Rizal menerangkan, optimisme juga muncul di pasar ekspor garmen, karena beberapa negara tujuan ekspor sudah berangsur pulih. Hal ini karena negara-negara tersebut tidak lagi menerapkan lockdown.

“Mudah-mudahan terus ada perbaikan sampai tahun depan. Apalagi, ekspor meningkat sedikit pada kuartal III dibandingkan kuartal II,” ujarnya.

Terkait perpanjangan fasilitas generalized system of preferences (GSP) dari Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Rizal menilai, hal itu tidak terlalu signifikan untuk TPT. Sebab, produk yang diekspor ke AS rata-rata tidak masuk ke skema GSP. Produk TPT yang mendapatkan fasilitas itu volumenya kecil, seperti sapu tangan. Akan tetapi, perpanjangan GSP dapat membangun optimisme untuk mendorong ekspor ke AS.

Dia menambahkan, secara umum, utilisasi industri TPT hulu rata-rata sudah berkisar 40- 50%, industri antara sebesar 50%- 60%, dan industri hilir TPT yang berorientasi ekspor rata-rata di atas 70%.

“Namun, utilisasi pemain pasar lokal tertekan olehbarang impor. Kita tahu, pasar pakaian jadi domestik masih diisi oleh barang impor,” ujar Rizal.

Selain itu, katanya, daya beli masyarakat masih relatif lemah. Namun, dibandingkan kuartal II, sudah membaik, seiring banyak masyarakat yang sudah bekerja kembali di industri.

“Itu sebabnya, kami belum bisa berharap banyak di pasar lokal. Tetapi, minimal proteksi dalam negeri dan peningkatan daya beli masyarakat sudah on the track,” kata Rizal.

Dia juga berkomentar soal pemilihan presiden AS. Prinsipnya, siapapun yang menang akan tetap memiliki perspektif sama bahwa Indonesia adalah salah satu mitra strategis AS, terutama di tekstil.

“Perspektif akan berubah kalau, misalnya, Joe Biden menang dan berubah haluan politik dan ekonomi ke Tiongkok. Itu mungkin akan berbeda. Alasannya, sentiment negatif AS ke Tiongkok itu menguntungkan kita,” ucap Rizal.

Berdasarkan data Kemenperin, TPT adalah salah satu sektor manufaktur yang paling tua, berskala besar, berstruktur kuat, serta menyerap banyak tenaga kerja. Industri TPT juga menjadi penghasil devisa yang cukup signfikan. Pada 2019, nilai ekspor TPT mencapai US$ 12,9 miliar, dengan serapan tenaga kerja 3,74 juta orang.

Sumber: Investor Daily

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *