Industri Tekstil Masih Tahan Peningkatan Utilisasi Pabrik

TEKSTILPOST.ID – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih enggan untuk meningkatkan utilisasi pabrik pada awal kuartal IV tahun 2020. Soalnya, penambahan produksi hanya akan menguras serta boros arus kas saat order per Oktober 2020 masih lesu.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Rizal Tanzil Rakhman mengatakan rata-rata utilisasi pabrikan belum berubah dari posisi Agustus, yakni di kisaran 60 %. Adapun, pergerakan industri TPT pada Oktober diprediksi datang dari subsektor industri kain.

“Sebagian industri melakukan penyesuaian tenaga kerja, karena pasar mengeras lagi. Walaupun tak banyak, itu terjadi di beberapa sektor, terutama di kain,” kata nya dalam siaran pers, di Jakarta, Rabu (03/11).

Dikutip Bisnis.com, Rizal membeberkan data bahwa saat ini utilisasi industri kain masih berada di kisaran 50 %, sementara itu utilisasi industri hulu TPT ada di rentang 40-50 %. Katanya, saat ini hanya industri garmen yang berada di posisi cukup stabil atau di kisaran 70 %.

Sehingga, kondisi industri TPT nasional masih sejalan dengan laporan IHS Market mengenai angka Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia per Oktober 2020. PMI Indonesia tetap di wilayah kontraksi dengan angka 47,8 atau naik 60 basis poin (bps) secara bulanan.

Rizal menjelaskan permintaan TPT yang stagnan cenderung menurun per Oktober membuat industri menahan pemesanan bahan baku. Sementara itu, permintaan untuk kuartal IV di 2020 di pasar domestik belum ada kepastian.

Rizal menerangkan bahwa permintaan di pasar ekspor tidak jauh berbeda. Menurut dia, industri TPT berorientasi ekspor cenderung enggan melakukan spekulasi peningkatan invetarisir barang jadi pada kuartal IV tahun 2020 ini.

“Kemungkinan besar pasar belum pasti, daya beli belum membaik secara signifikan. Pemerintah dilihat belum mungkin memberikan akses positif,” ucapnya.

Rizal menilai proteksi pasar lokal menjadi jalan satu-satunya untuk mengungkit utilisasi industri TPT nasional. Dengan kata lain, pengesahan safeguard produk garmen harus dilakukan setidaknya pada Januari 2021.

Rizal mengutarakan, hal tersebut akan membantu industri tekstil untuk menikmati pasar Lebaran 2021 pada Mei 2021. “Kepastian proteksi dalam negeri untuk garmen belum ada. Kalau digempur juga, pabrik tidak berani spekulasi,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri tekstil dan produk tekstil menyerap 3,8 juta tenaga kerja. Adapun, industri kain berkontribusi sekitar 17,69 % atau 678.360 orang yang tersebar pada 1.540 industri besar dan sekitar 131.000 industri kecil dan menengah (IKM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *