5.000 Pekerja Bandung Barat Jadi Pengangguran, Mayoritas Korban PHK Tekstil

TEKSTILPOST.ID – Sebanyak 5.000 lebih warga Kabupaten Bandung Barat menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau dirumahkan. Hal tersebut karena dampak pandemi COVID19.

“Sejak pandemi COVID -19 di bulan Maret, data yang masuk ke kami ada lebih dari 5.000 pekerja yang harus dirumahkan dan terkena PHK di Bandung Barat,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bandung Barat, Iing Solihin, Senin (2/11).

Iing mengungkapkan, kebanyakan perusahaan yang merumahkan para pegawainya selama pandemi COVID-19 adalah industri tekstil atau pabrik berskala menengah kecil. Penyebabnya pemasukan mereka menurun drastis, sehingga kesulitan untuk membayar gaji.

Menurutnya data pekerja formal yang terdampak PHK akibat virus corona itu bisa saja bertambah, karena pendataan perusahaan yang melakukan PHK masih terus dilakukan. Selain itu, karyawan informal dan pelaku UMKM juga banyak yang terdampak. Kebanyakan karena menurunnya pesanan sehingga membuat pendapatan berkurang.

“Pekerja informal itu seperti ojek online, pekerja bangunan, pertanian, buruh rumah tangga, pelaku seni, dan semacamnya. UMKM juga sama ada yang sampai gulung tikar karena orderan tidak ada,” ucapnya.

Dia juga menyarankan kepada perusahaan yang melakukan PHK terhadap buruhnya agar memenuhi pesangon dan tunjangan sesuai dengan aturan yang berlaku. Atau harus ada perjanjian antara pengusaha dan pekerja, sebab jika tidak maka akan ada sanksi yang dijatuhkan.

“Buruh yang di-PHK itu masuk dalam kategori miskin baru, makanya mereka akan didorong untuk mengikuti pelatihan kerja di BLK untuk mendapatkan skill agar bisa menjadi wirausaha baru,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *