Hati-hati! Produk Impor Pakaian dan Sepatu Beredar di E-Commerce

TEKSTILPOST.ID – Pandemi COVID-19 membuat industri manufaktur padat karya terseok-seok, termasuk sektor tekstil. Tidak hanya itu, banjirnya produk impor membuat daya saing harga produk lokal melemah. Dari dua fakta tersebut tak menutup kemungkinan perekonomian Indonesia diprediksi akan melemah sampai 2021.

Data dari survei Katadata Insight Center (KIC) menunjukan 34,2% konsumen suka terhadap pakaian dan 42,9% sepatu dari luar negeri. Padahal kedua barang ini dii produksi dalam negeri dengan kapasitas cukup besar, bahkan menumbuhkan 10% total ekspor nasional. Baju dan sepatu merupakan produk dengan minat tertinggi di e-commerce.

Dalam risetnya, 87% dari 6.697 responden menyukai produk lokal. Namun, konsumen dengan penyuka baju dan sepatu impor tidak jauh beda persentasenya.

Jika dikerucutkan, sebanyak 35,7% pelanggan menyukai baju impor buatan Korea Selatan. Sementara, 42,9% konsumen memilih sepatu buatan Amerika Serikat (AS). Survei yang dilakukan selama 13-17 Oktober dengan usia responden 17 sampai 65 tahun.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) merilis data yang menunjukan data pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil dari 2017 sebanyak 3,83% menjadi 15,35% hingga tahun lalu. Baju dan sepatu impor menjadi minat hampir separuh responden, walaupun produksi di dalam negeri cenderung tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS), sektor TPT menyumbangkan 1,24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di kuartal II. Tetapi, industri tekstil rentan terhadap produk impor. Terbukti pada semester I, tekstil menjadi 10 besar produk yang paling banyak diimpor dengan nilai sebesar US$ 138,8 juta per Juni.

Sementara itu, Kemenperin mendata bahwa industri alas kaki Indonesia memiliki 2,8% pangsa pasar global. Harga rata-rata  barangnya yang diekspor yaitu US$ 16,7 atau Rp 244,8 ribu. Harga ini dinilai sangat kompetitif.

Di tahun 2019, Kemenperin mengatakan, 90% barang yang dijual di marketplace merupakan produk impor. Hal ini dibantah oleh Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) yang menyebutkan bahwa impor barang per paket penjualannya berasal dari luar negeri cuma 0,42%.

Laporan JP Morgan bertajuk ‘E-Commerce Payments Trend: Indonesia’ di tahun 2019 menunjukan hanya 7% konsumen yang memberli produk impor di e-commerce. Namun, penjualan lintas batas berkontribusi 20%.

Produk impor yang dibeli melalui marketplace paling banyak dari China, disusul Singapura dan Jepang. Tetapi dalam laporan JP Morgan itu tidak disebutkan secara rinci nilai atau persentasenya.

Staf Ahli Bidang Transformasi Digital, Kreativitas, dan Sumber Daya Manusia Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Mira Tayyiba mengungkapkan, pemerintah tengah berfokus mendorong lebih banyak Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk masuk ke ekosistem digital terlebih dahulu. “Selanjutnya mengarah ke daya saing global,” katanya dalam webinar, Senin (26/10).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *