Marak Impor Tekstil, Permendag No. 77/2019 Harus Direvisi Tahun Ini

TEKSTILPOST.ID – Pelaku usaha tekstil dan produk tekstil (TPT) menilai bahwa Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 77 Tahun 2019 tentang Ketentuan Impor TPT seharusnya dapat direvisi paling lambat pada tahun ini.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan, revisi Permendag No. 77/2019 dapat memperbaiki tata kelola niaga industri TPT. Dia mencatat saat ini ada pertumbuhan volume kain impor dari negara yang tidak terdaftar dalam pengajuan safeguard produk kain, seperti Vietnam dan Malaysia.

“Revisi regulasi Permendag No.77/2019 harus dilakukan tahun ini,” ucap Rizal, di Jakarta, Kamis (15/10).

Rizal memperkirakan kenaikan impor garmen ini dilakukan dengan praktik transhipment atau mengirimkan produk ke suatu negara sebelum mengirimkannya ke negara tujuan impor. Tetapi, Rizal belum dapat mendeteksi negara asal praktik transhipment itu.

Perlu diketahui, Permendag No. 77/2019 memungkinkan perusahaan yang tidak memiliki kemampuan produksi bekerja sama dengan sebuah pabrik untuk mendapatkan rekomendasi maupun izin impor tekstil.

Ditempat terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menyatakan revisi Permendag No 77/2019 memungkinkan dilakukan tahun ini. Hal ini harus seiring dengan peningkatan pengawasan Direktorat Bea dan Cukai.

“Permendag No 77/2019 harus direvisi. Kinerja bea cukai juga belum baik. Sementara, ekspor kita masih turun, semua negara masuk ke pasar domestiknya sendiri. Ini artinya pasar dalam negeri menjadi kunci,” ujar Redma.

Rema mengatakan, seharusnya utilisasi industri hulu bisa berada di kisaran 70-75 persen pada awal kuartal IV tahun 2020 ini. Kenyataannya, rata-rata pabrik memiliki utilisasi dikisaran 50 persen saja.

“Masalah utama sebetulnya yakni daya beli menurun, tetapi pasar masih penuh dengan produk impor. Sehingga pasar sendiri berebut dengan banyak pemain, termasuk pemain impor yang masih besar,” kata dia.

Dia mengucapkan bahwa kombinasi penyusutan pasar dan maraknya barang impor membuat masalah baru untuk saat ini. Dia juga menambahkan perang harga yang dilakukan pemain loal saat pasar menyusut sekarang ini dilakukan oleh sesama produk impor.

Hasilnya, Redma mengatakan, kesempatan pemain hulu dalam negeri semakin kecil untuk memasok industri hilir. Adapun, kondisi tersebut memperburuk dengan maraknya volume garmen impor yang masuk ke dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *