Industri Tekstil Tidak Bisa Imbangi Target Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun Depan

TEKSTILPOST.ID – Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengungkapkan bahwa pelaku usaha tekstil dan produk tekstil (TPT) sulit untuk merealisasi target pertumbuhan ekonomi tahun 2021 yang dipatok pemerintah, yakni sebesar 4-5 persen.

Rizal mengatakan, beratnya untuk mengimbangi target pemerintah yang tak lepas dari dampak signifikan dari pandemi COVID-19 terhadap industri pertekstilan di Indonesia.

“Virus corona ini membuat industri tekstil mengalami penurunan produksi secara signifikan. Jadi, sulit untuk mengimbangi target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Soalnya, bulan Mei-Juni 2020 utilitas industri tekstil berada di bawah 20 persen. Ini berarti kami harus memulai dari dasar sekali untuk memulihkan ke kondisi normal” ucap Rizal, Selasa (22/09).

Rizal menambahkan, untuk mendorong utilitas industri TPT hingga akhir tahun, pemerintah harus melakukan penyehatan permintaan pasar. Demikian, operasional pabrik dapat berjalan dan suplai bisa bangkit.

Hingga kini, Rizal melanjutkan, belanja masyarakat masih tertuju untuk keperluan kesehatan dan keperluan untuk aktivitas sehari-hari. Sementara untuk meningkatkan belanja tekstil, perlu adanya pemulihan kesehatan sehingga masyarakat mulai berani membelanjakan uangnya untuk keperluan pribadi seperti pakaian. Pemerintah juga perlu menerapkan safeguard produk garmen sebagai upaya pengamanan pasar lokal serta melakukan subtitusi bahan impor.

“Karena jika ekonomi masyarakat sudah ada, tapi barang yang di pasar itu impor semua, itu sama saja tidak akan menumbuhkan produksi lokal. Kalau produk dalam negeri bangkit, penyerapan tenaga kerja akan bagus, masyarakat punya kerja, juga punya uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari” ucap Rizal.

Sementara, untuk menjaga aliran kas perusahaan di sektor tekstil, pemerintah perlu memberikan relaksasi cicilan perbankan dan potongan tagihan listrik. Adapun, beberapa stimulus seperti minimum jam nyala, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) dinilai sudah bukan menjadi bantuan yang diperlukan oleh sektor industri TPT dalam menjaga cash flow.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *