Sinkronisasi Target 34,14 Miliar USD Kinerja Ekspor IKFT di Masa Pandemi

TEKSTILPOST.ID – Industri tekstil produk tekstil (TPT) nasional tengah menghadapi banyak permasalahan, mulai dari  kondisi utilitas produksi seperti mesin yang perlu pembaharuan hingga derasnya laju impor untuk produk tekstil. Kondisi tersebut ditambah dengan mewabahnya corona virus sejak Maret lalu yang menyebabkan banyak industri tekstil menghentikan kegiatan produksi sementara waktu.

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) mengungkapkan bahwa permasalahan yang dialami industri tekstil menjadi perhatian pemerintah untuk dilakukan pembenahan.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam upaya untuk memacu produktivitas industri. Kontribusi sektor IKFT ditargetkan mencapai 4,2 persen tahun ini, hal itu sudah termasuk pertimbangan dampak industri akibat pandemi COVID- 19. Pada tahun 2020, pertumbuhan sektor IKFT ditargetkan mencapai 0,40 persen dan sebesar 5,3 persen pada tahun 2024.

Dilansir dari neraca.co.id kemarin (21/09), Dirjen IKFT Kementerian Perindustrian RI, Muhammad Khayam mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan sinkronisasi kondisi riil industri akibat dampak pandemi targeting kontribusi sektor IKFT.

“Beberapa waktu lalu kami menggelar kegiatan sinkronisasi target kinerja sektor IKFT yang sudah ditetapkan sampai akhir tahun 2020 dengan kondisi riil di lapangan pada masa pandemi COVID- 19 saat ini” ungkap Muhammad Khayam.

Beberapa kebijakan dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dalam mencapai sasaran pertumbuhan sektor IKFT. Dirjen IKFT menerangkan bahwa terdapat lima arah kebijakan strategis yang telah ditetapkan. Pertama ialah pengembangan sumber daya manusia industri, pengembangan sarana dan prasarana industri, pengembangan pemberdayaan industri, kebijakan fasilitas fiskal dan nonfiskal serta kebijakan reformasi birokrasi.

Di lain pihak, Sekretaris Dirjen IKFT Sri Hastuti Nawaningsih mengatakan bahwa pemerintah telah mengeluarkan sejumlah regulasi untuk mendorong kinerja dan produktivitas industri. Contohnya yakni penerbitan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Tentu, hal tersebut dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat.

Melalui berbagai regulasi yang memudahkan jalannya industri. Direktorat jenderal IKFT optimis dapat memacu kinerja industri meski dihadapkan dengan kondisi wabah pandemi COVID- 19. Melalui penerbitan IOMKI, perusahaan yang terdaftar mendapatkan IOMKI wajib untuk memberikan laporan berkala melalui Sistem Informasi industri Nasional (SIINas).

Pada triwulan II tahun 2020, sektor IKFT memberikan kontribusi 4,5 persen dalam perekonomian nasional. Hal tersebut senada dengan kondisi penyerapan tenaga kerja di sektor ini yakni sebanyak 6, 96 juta orang dari total tenaga kerja industri pengolahan yang mencapai 18,46 juta orang.

Realisasi investasi pada sektor IKFT pada triwulan II- 2020 menembus Rp 32,39 triliun yang terdiri dari penanaman modal asing (PMA) Rp 20,06 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada kisaran Rp 12,33 triliun serta kinerja ekspor menyumbang USD 14,59 miliar.

Pada kesempatan tersebut Muhammad Khayam menjelaskan bahwa untuk tahun 2020, pemerintah menargetkan kinerja ekspor sektor IKFT bisa menembus USD 34,14 miliar dengan realisasi investasi sebesar Rp 84,65 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 7,37 juta orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *