Persyaratan Mutu Kain untuk Masker Guna Mencegah Penyebaran COVID-19

TEKSTILPOST.ID – Masker merupakan salah satu bentuk dari Alat Pelindung diri (APD) berupa kain yang menutupi hidung dan mulut penggunanya sehingga percikan saluran nafas (droplet) dari pengguna terhindar dari orang lain. Dalam penggunaannya di lapangan, masker dengan medis grade lebih efektif menyaring partikel, virus dan bakteri dibandingkan masker dari kain. Masker kain bisa berfungsi dengan efektif jika digunakan dengan benar.

Masker kain saat ini terdiri dari kain tenun atau kain rajut, dari berbagai jenis serat sebagai bahan dasarnya. Masker kain yang beredar di pasaran ada yang terdiri dari satu lapis, dua lapis dan tiga lapis. Alasan utama masyarakat lebih memilih masker kain dikarenakan masker kain dapat dicuci dan digunakan berulang kali (washable).

Baru-baru ini masyarakat Jakarata, Bogor Depok Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) dibuat heboh oleh adanya peraturan mengenai masker scuba/buff yang tidak direkomendasikan penggunaannya didalam commuter line (KRL). “Hari Senin (21/09) KCI menganjurkan untuk seluruh pengguna KRL untuk memakai masker yang terbukti efektif dalam mencegah droplet atau cairan yang keluar dari mulut dan hidung,” ujar VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba, dalam keterangannya, Jumat (18/9/2020).

Dalam ilmu pertekstilan, penyatuan lapisan kain dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti penjahitan, laminasi, rajut double knit (rib atau interlock), kain tenun double face, dan pengeleman (glueing).  Oleh karena itu, dirasa perlu adanya standarisasi (persyaratan mutu) kain untuk APD, khususnya untuk masker karena masker kain merupakan salah satu APD yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan cukup membantu mencegah penularan virus melalui percikan saluran nafas (droplet). Standarisasi itu dimaksudkan untuk mencegah para produsen masker rumahan tidak memproduksi masker berbahan dasar kain yang memiliki gramasi kecil untuk kain rajut, cover factor yang kecil untuk kain tenun juga berbagai standar lainnya yang mencakup kekuatan tarik kain (tensile strength), daya tembus udara, daya serap, ketahanan luntur warna (untuk kain berwarna selain warna putih) dan sebagainya.

Standarisasi masker berbahan kain ini dapat mengacu pada standar yang dikeluarkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO), asosiasi standarisasi internasional (ISO, AATCC, ASTM, dsb.)  maupun Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebagai contoh untuk pengujian daya tembus udara dilakukan sesuai SNI 7648, pengujian tahan air dapat dilakukan sesuai dengan AATCC 42, pengujian daya serap dilakukan sesuai SNI 0279, pengujian penentuan aktivitas antibakteri dilakukan sesuai SNI ISO 20743, dan pengujian lainnya sehingga adanya standar mutu kain untuk masker.

Apabila standar mutu kain untuk masker ini sudah ditetapkan, masyarakat dapat melakukan pengujian mutu kain untuk masker di laboratorium yang dimiliki oleh Balai Besar Tekstil (BBT) Kemenperin yang berada di Bandung, maupun lembaga pengujian swasta karena sudah mempunyai sertifikasi laboratorium untuk melakukan standar tersebut. 

Selain mengedukasi masyarakat, upaya yang perlu dilakukan selanjutnya adalah memberikan contoh masker kain yang sudah lolos uji mutu dari standar yang sudah ditetapkan sehingga masyarakat dapat memakai dan memproduksi  masker dengan bahan yang tepat guna mencegah penyebaran COVID-19. 

Penulis:
Bagas Setyo Nugroho
Formateur HMI Komisariat STT Tekstil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *