Epidemiolog: Pemerintah Baru Sadar Penggunaan Masker Scuba Tidak Efektif

TEKSTILPOST.ID – Sejak awal pandemi virus corona melanda, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merilis daftar jenis-jenis masker yang aman digunakan untuk menekan resiko penularan virus.

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia (UI), Syahrizal Syarif bertanya-tanya dengan sikap pemerintah yang baru-baru ini mempersoalkan penggunaan masker scuba dan buff. Menurutnya, sejak awal WHO tidak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff untuk kegiatan sehari-hari.

“Sejak awal, WHO sudah mengimbau agar masyarakatnya menggunakan masker buatan pabrik ataupun masker tiga lapis” katanya, Jumat (18/09).

Dilansir PRFMNEWS, Syahrizal mengungkapkan bahwa masker yang terdiri dari tiga lapisan memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan masker scuba dan buff.

Tiga lapisan ini berfungsi menjaga saluran pernafasan dari virus maupun partikel-partikel kecil lainnya. Inilah sebabnya masker scuba dan buff dilarang karena terdiri dari satu lapisan saja.

“Lapisan pertama berfungsi sebagai anti air. Lapisan kedua adalah lapisan yang terdiri atas bahan yang bisa menyerap cairan. Lapisan ketiga bisa berbahan lembut untuk tidak menganggu pernafasan” ucapnya.

Meskipun masket tidak terdiri dari tiga lapis kain, Syahrizal menyarankan untuk menggunakan masker dengan dua lapis kain. Dengan menggunakan masker sejenis ini, penyisipan tisu sebagai lapisan penyerap masih dapat mengoptimalkan fungsi dari masker tersebut.

“Seharusnya pemerintah melarang ini sejak awal pandemi. Saya bingung kenapa pemerintah baru ribut-ributnya sekarang. Akhirnya korbannya ya rakyat-rakyat juga” imbuhnya.

Penumpang KRL Harus Pakai Masker 3 Lapis atau Medis Mulai 21 September

Pengguna KRL saat pandemi COVID-19

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengumumkan bahwa tanggal 21 September calon penumpang KRL diwajibkan untuk memakai masker yang tiga lapisan atau medis. Hal ini guna mencegah penularan virus COVID-19 secara droplets dan tidak menciptakan klaster baru penyebaran virus corona.

“Mulai Senin (21/09) KCI mengharuskan seluruh penumpang untuk memakai masker yang terbukti efektif dalam mencegah droplet atau cairan yang keluar dari mulut dan hidung” kata Vice President Corporate Communications PT KCI, Anne Purba, Jumat (18/09).

Anne mengatakan bahwa hal ini sesuai dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan mengenai jenis masker yang efektif yaitu setidaknya jenis masker kain yang terdiri dari tiga lapisan atau masker kesehatan untuk pemakaian sehari-hari.

Anne pun mengajak para pengguna KRL untuk menggunakan masker yang tepat  seperti dengan menutupi hidung dan mulut sampai bagian dagu. KCI juga menyarankan untuk masyarakat tetap menjalankan aktivitasnya dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

“Pada prinsipnya, masyarakat diimbau untuk keluar rumah seperlunya. Transportasi publik tetap jalan dengan pembatasan pada masa PSBB ini untuk melayani mereka yang benar-benar memiliki kebutuhan mendesak” pungkasnya.

PT KCI tidak menerangkan masker scuba atau buff sebagai jenis masker yang boleh digunakan saat naik KRL.

Diketahui, PT KCI suah melakukan sosialisasi kepada pengguna KRL untuk menghindari pemakaian masker scuba dan buff. Hal ini dilakukan untuk menghentikan penyebaran COVID-19 via droplets yang masih mungkin terjadi.

Instagram PT KCI , sudah memposting untuk sosialisasi menghindari penggunaan masker scuba dan buff. Dalam penjelasannya, masker scuba atau buff hanya efektif 5% untuk mencegah resiko terkena virus.

“Hindari pemakaian masker scuba dan atau buff yang hanya 5% efektif dalam mencegah resiko terpaparnya partikel kecil seperti debu, virus, dan bakteri” tulisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *