PSBB Jakarta Hambat Pemasaran Produk Tekstil Majalaya

TEKSTILPOST.ID – Indonesia sedang menghadapi ketidakpastian keadaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat akibat hantaman COVID- 19. Upaya pemulihan ekonomi sejak berlakunya new normal belum menuai hasil yang signifikan, ditambah kondisi penyebaran COVID- 19 yang terus meningkat.

Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memperketat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak 14 September lalu. Kebijakan tersebut mengatur kehidupan sosial masyarakat yang juga berimbas terhadap pelaku usaha dan perekonomian masyarakat.

Industri tekstil Majalaya yang banyak memproduksi kain untuk memenuhi permintaan pasar nasional, ikut terdampak dari adanya kebijakan PSBB tersebut. Pasalnya, produk yang dihasilkan oleh produsen tekstil dari Paseh dan Majalaya tidak dapat didistribusikan ke wilayah tersebut.

Diketahui memang untuk pasar nasional tekstil hasil produksi Paseh dan Majalaya didistribusikan terpusat di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Dengan kondisi PSBB seperti sekarang, distribusi produk jadi terhambat. Permintaan penundaan produksi dan juga pengiriman barang oleh konsumen kerap menjadi masalah, pabrik tekstil sekarang kebingungan akan distribusi produk mereka.

Pengelola pabrik tekstil CV Sandang Mulia Lestari Paseh Kabupaten Bandung, H. Asep Gunawan menuturkan pada Galamedia pada Rabu (16/09) kemarin bahwa hasil produksi tekstil terus menumpuk di gudang karena tidak bisa dipasarkan.

“Lebih dari 1,5 juta yard kain dibiarkan menumpuk karena konsumen dari luar daerah meminta penundaan pengiriman akibat terkendala COVID- 19”, ujar H. Asep.

Dampak dari mewabahnya virus korona di Indonesia memang tidak bisa dihindari, sektor perekonomian seperti halnya industri tekstil cukup terpukul menghadapi dampak berkepanjangan akibat COVID- 19. Ditambah lagi peningkatan jumlah kasus terpapar yang terus meningkat, industri tekstil banyak menghadapi ketidak pastian.

Dalam kasus industri tekstil di Paseh dan Majalaya, penjualan produk mengalami penurunan yang cukup signifikan. Selain memang adanya kemerosotan sejak mewabahnya COVID- 19 beberapa bulan terakhir, pabrik tekstil dihadapkan dengan kondisi jalur distribusi yang terhambat akibat PSBB.

H. Asep Gunawan menambahkan, akibat pandemi COVID- 19 belum mengalami penurunan dan bahkan kasus yang terpapar terus bertambah berakibat langsung terhadap penjualan.

“Pemasaran barang kini hanya tersisa 20 persen, sebagian besar pemasaran barang sudah turun akibat dampak dari virus corona” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *