PSBB Total DKI Jakarta, Industri Tekstil di Indonesia Akan Hilang Pendapatan US$ 3 Miliar/Bulan

TEKSTILPOST.ID – COVID-19 membuat industri tekstil sulit untuk beroperasi. Hal ini dirasakan dari kinerja sektor hulu yang akan menurun. Ancaman datang dari kebijakan yang diambil pemerintah yaitu  PSBB total yang akan dimulai pada 14 September 2020 depan.

Sekretraris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta mengungkapkan bahwa PSBB total akan melemahkan industri tekstil di Indonesia.

Redma mengatakan, produksi pabrik memang diprediksi akan tetap berjalan saat aturan PSBB total Jakarta berlaku. Namun, PSBB total 14 September ini akan berdampak pada permintaan produksi industri tekstil dari hulu hingga hilir. Sekitar 30% produk tekstil akan diserap ke daerah Tanah Abang.

“Pada keadaan sekarang utilisasi baru mencapai sekitar 50%. Apabila senin PSBB total, utilisasi diperkirakan akan turun ke 25%” ujar Redma, Kamis (10/09).

Sebagai gambaran, sesuai data APSyFI total kapasitas produksi industri tekstil sebanyak 830.000 ton untuk benang filamen, 800.000 untuk serat rayon, dan 840.000 ton untuk serat poliester per tahun. Prediksinya, kapasitas produksi akan mencapai seperempat dari kapasitas tersebut jika PSBB Jakarta diberlakukan.

Sementara itu, volume penjualan pelaku usaha tekstil diperkirakan akan anjlok. “Perputaran tekstil di dalam negeri mencapai US$ 35 miliar. Bulan Agustus, industri sudah kehilangan US$ 15 miliar. Jika keputusan PSBB Jakarta diberlakukan, per bulan perputarannya bisa hilang hingga US$  miliar” ucapnya.

Dia tidak memberikan solusi khusus yang dapat dilakukan oleh industri tekstil untuk menghadapi saat penerapan PSBB senin nanti.

Redma berharap pemerintah dapat menghentikan impor APD lengkap, termasuk diantaranya alat pelindung diri yang dipasarkan secara online. Penjualan APD lokal dapat mengurangi dampak kerugian ekonomi dan tanggungan beban industri TPT apabila produk produksi industri lokal dapat mendominasi pasar domestik.

Menteri Perindustrian : Sebelum PSBB Total Jakarta, Industri Tekstil Sudah Terkontraksi 14,23%
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita

Diwaktu berbeda, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita  mengatakan, keputusan PSBB Jakarta yang diterapkan kembali akan berdampak pada operasional industri di Tanah Air.

“Kalaupun nanti diikuti daerah-daerah lain di Indonesia yang akan kembali diberlakukan aturan PSBB yang ketat” ucap Agus saat menghadiri Rakornas Kadin, Kamis (10/09).

Dia takut industri yang beroperasi selama ini akan mendapatkan tekanan. Tetapi, kesehatan rakyat menjadi hal yang utama dan terpenting. Agus mengungkapkan bahwa sektor industri manufaktur pada kuartal kedua 2020 mengalami kontraksi senilai 5,74 persen.

Agus membeberkan, kontraksi ini dialami oleh seluruh subsektor manufaktur, terkecuali 4 sektor. Seperti usaha makanan dan minuman naik 0,22 persen, sektor kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 8,65 persen, sektor industri logam naik 2,76 persen, dan usaha industri kertas dan barang dari kertas tumbuh 1,1 persen.

Sementara, 5 subsektor tekanan terberat dialami oleh industri tembakau turun 10,84 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik terkontraksi 11,98 persen, industri mesin dan perlengkapan  turun 13,42 persen, industri alat angkutan turun 34,29 persen dan industri tekstil dan pakaian jadi terkontraksi hingga 14,23 persen.

Agus mengucapkan, industri manufaktur tetap menjadi sumber pendapataan negara sebanyak 19,87%. Karena besarnya pengaruh industri ini, industri ikut terpukul akibat virus Corona ini akan membuat perekonomian Indonesia kembali surut.

“Memacu pertumbuhan industri manufaktur menjadi kunci akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia” ucap Agus.

Disamping itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mencanangkan subtitusi impor sebesar 35% di tahun 2022. Agus memastikan, program ini bukanlah gerakan anti impor. Melainkan, untuk memperkuat struktur industri dalam negeri.

“Industri manufaktur menjadi pemicu pembangunan ekonomi, program subtitusi impor akan memdorong pendapatan devisa negara, penguatan struktur industri, mendorong rantai suplai dalamnegeri dan peningkatan produksi nasional. Serta mendorong Indonesia menjadi bagian global value chain yang akan menyehatkan neraca perdagangan” jelas Agus.

Sementara itu, Kemenperin mendorong, penguatan utilisasi industri agar semakin kuat. Dia mengungkap, sebelum pandemi utilisasi nasional mencapai rata-rata 75 persen. Setelah virus Corona menyebar di bulan April dan Mei rata-rata utilisasi nasional turun menjadi 35-30 persen. Tiga hari lalu menjadi 53-54 persen.

“Tentu di tahun ini banyak berkaitan apabila PSBB ketat kembali diberlakukan. Bukan hanya Jakarta tetapi wilayah dan provinsi besar” kata Agus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *