Jurus Jitu untuk Dorong Daya Saing Industri Garmen Tanah Air

TEKSTILPOST.ID – Kondisi manufaktur di Indonesia cukup mengkhawatirkan di tengah pandemi COVID-19. Hal ini berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian terpukul.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Sari Wahyuni, mengucapkan Indonesia dan Vietnam termasuk 10 negara terbesar eksportir garmen di tingkat dunia pada tahun 2019. Nilai ekspor pakaian jadi di negara-negara tersebut menghasilkan US$ 48,8 miliar.

Industri manufaktur masih tetap berkontribusi ditengah COVID-19 sebanyak 19,98% terhadap PDB. Industri garmen telah membuka lapangan kerja sebesar 18,5 juta buruh dan 22% tenaga kerja tersebut telah bekerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Data yang diterima Sari, pada periode 1990-2010 industri tekstil di Vietnam mengalami pertumbuhan secara signifikan, sementara Indonesia cenderung stagnan. Penyebabnya, kata dia, karena produk Vietnam yang masuk ke Uni Eropa dikenakan bea masuk 0%, sedangkan Indonesia dikenai biaya 11%. Sementara itu, teknologi tekstil di Tanah Air mengalami degradasi.

“Kalau ini tidak diperbaiki, sulit rasanya mengejar ketertinggalan dengan Vietnam” katanya dalam webinar tentang pekerja garmen, Selasa lalu (25/08).

Sementara, Sari menilai industri TPT di tahun 2017 naik sebesar 35% dan tumbuh hingga 20,71% di semester 2 di 2019. Dipertengahan tahun 2010, industri garmen global memiliki ketertarikan dengan pasar Indonesia untuk pemindahan produk pakaian dari China. Jawa Tengah berani melakukan penawaran pasokan tenaga kerja dengan gaji 40% dari Jakarta dan dijanjikan untuk perselisihan hubungan industrial rendah.

Dosen Senior Departemen Manajemen FEB UI, Aryana Satrya, menyarankan untuk 5 usulan demi meningkatkan daya saing  garmen di Indonesia. Kesatu, mendorong penyelesaian perjanjian  perdagangan antara Indonesia-Uni eropa dengan menurunkan bea masuk. Kedua, mendukung penyelarasan peraturan pemerintah. Contohnya, benang jahit tidak terlalu mahal dan untuk sektir hilir tidak terlalu mura, sehingga konsumen cenderung membeli barang impor.

Ketiga, memajukan penerapan teknologi terbarukan supaya biaya produksi dapat ditekan dan lebih efisien. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan seperti kredit untuk industri demi pembaharuan teknologi terkini. Selanjutnya, menurunkan produk impor tekstil agar meningkatnya konsumsi produk lokal. Terakhir, meningkatkan produktivitas pekerja melalui berbagai faktor seperti, meningkatkan sikap positif , mendorong keterampilan, dan dialog sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *