PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Perluas Ekspor ke Eropa dan Amerika

TEKSTILPOST.ID – Sejak kemunculan COVID-19 di Indonesia, banyak perusahaan yang menunda rapat umum pemegang saham (RUPS) karena wajib mematuhi regulasi untuk tidak berkumpul dan mematuhi protokol kesehatan. Tetapi, pemerintah sudah mencanangkan kenormalan baru (new normal) sehingga kegiatan yang melibatkan massa dibuka kembali dengan menerapkan standar kesehatan.

PT. Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) telah melakukan RUPS pada tanggal 27 Agustus kemarin. Rapat tersebut membahas laporan keuangan secara tahunan dan penyetujuan perhitungan tahunan yang meliputi neraca, keuntungan dan kerugian perusahaan di tahun buku 2019.

Perlu diketahui, SBAT merupakan perusahaan penghasil benang daur ulang (recycle) bahan tekstil terbesar di Indonesia.  Ada dua jenis benang yang diproduksi diperusahaan ini, yakni open end dan ring spinning. Benang open end biasanya digunakan untuk bahan baku pembuatan sarung tangan, lap meja, hingga kain pel. Selain itu, benang ring spinning biasanya digunakan untuk bahan baku kain.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham SBAT naik 13%, dengan nilai transaksi senilai Rp4,7 miliar dan volume perdagangan saham 208.216 lot saham pada Rabu (26/08). Di sebulan lalu, saham perusahaan tersebut meroket hingga 54%. Sementara sejak dihitung dari IPO di bulan April, saham SBAT bertumbuh lebih dari 100%.

“Naiknya harga saham dari awal IPO per Rp105/saham hingga saat ini menjadi Rp242/saham dengan capaian 105%. Hal ini karena kepercayaan pasar terhadap kinerja perusahaan yang sedang kami genjot. Kami juga sedang meluaskan pasar ekspor, yang kini masuk di pasar Eropa dan Amerika Latin,” kata Jefri Junaedi selaku Direktur Utama SBAT dalam siaran pers Kamis (27/08). 

Dalam RUPS, perseroan tersebut memutuskan penggunaan laba untuk menunjang kegiatan operasi dan pengembangan kegiatan usaha serta tetap mempertahankan Jefri Junaedi sebagai Direktur Utama dan Somad Tjuar sebagai Direktur. Struktural dewan komisaris juga tidak berubah masih dijabat oleh Santoso Widjojo sebagai Komisaris Utama, Martha Intan Yaputra sebagai Komisaris dan Mamay Jamaludin sebagai Komisaris Independen. 

Sebelumnya, saat bulan April lalu, SBAT menghimpun dana sebesar Rp44,62 miliar melalui IPO untuk membeli mesin baru dari Swiss. Pada Rabu ini, perseroan menggelar RUPS di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, pukul 14.00 WIB. Agenda RUPS perusahaan sebagaimana disampaikan antara lain menyetujui laporan keuangan dan tahunan serta pengesahan perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca dan laba rugi perseroan untuk tahun buku 2019.

Tahun kemarin, penjualan ekspor menyumbang sekitar 30% dari pendapatan SBAT, sementara 70% didominasi oleh penjualan pasar domestik. Tahun 2020 ini, SBAT memfokuskan ke pengembangan kualitas produk, terutama tentang keramahan lingkungan. Yang membuat produk SBAT diminati pasar adalah benang open end-nya sangat ramah lingkungan karena sama sekali tidak menggunakan bahan kimia.

“Kami sebelumnya fokus pada pengembangan benang open end di warna putih, karena peminatnya sangat banyak. Saat ini, kami juga sudah mengembangkan warna-warna lain, terutama merah, hitam dan biru. Tiga warna ini sangat disegani oleh pasar Pakistan, karena sebagai bahan baku kaos kaki dan pasar Rusia untuk sarung tangan. Benang kami diminati, karena sama sekali bebas bahan kimia sehingga ramah kepada kulit,” tutup Jefri. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *