Kasus Importasi Tekstil Pasca Kejagung Terbakar

TEKSTILPOST.ID – Ahli hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar menyebutkan kebakaran gedung utama Kejaksaan Agung (Kejagung) tak bisa lepas dari persepsi sabotase. Pasalnya, Kejagung tengah mengusut sejumlah kasus besar seperti Jiwasraya dan dugaan suap dari terpidana Djoko Tjandra

Menurutnya, insiden ini dapat menjadi bentuk serangan terhadap penyidik. Hal ini mengingat kasus Djoko Tjandra menyeret mantan Kepala Subbagian Pemantauan dan Evaluasi II Biro Perencanaan Kejaksaan Agung Pinangki Sirna Malasari.

“Sangat mungkin itu menjadi ancaman bagi penyidik kejaksaan untuk mengembangkan kasus jaksa Pinangki pada jaksa lainnya, termasuk para pejabat tingginya,” ujar Abdul, Senin (24/08).

Salah satu ruangan yang terbakar di Kejagung yakni milik jaksa Pinangki. Dia diduga menerima uang US$ 500 ribu (Rp 7 miliar) dari Djoko Tjandra. Pinangki telah dijebloskan ke ruang tahanan. Kasusnya sekarang masih dilakukan penyelidikan Korps Adhyaksa.

“Ada info akan ada penetapan tersangka baru dari kalangan petinggi jaksa. Kemudian terjadi kebakaran besar di Kejagung,” tuturnya.

Fickar menjelaskan bahwa dari rangkaian peristiwa ini sulit untuk tidak menyimpulkan salah satu penyebab kebakaran itu yakni sabotase. Selain itu, pada tahun 2000, Kejagung sempat diteror bom. Kala itu, Djoko Tjandra sedang diperiksa sebagai saksi atas tersangka Gubernur Bank Indonesia (nonaktif) Syahril Sabirin dalam kasus penyalahgunaan dana reboisasi.

Dua bom ditemukan di kamar mandi Lantai II Gedung Bundar Kejaksaan Agung (Kejagung), Jalan Hasanuddin, Jakarta Selatan. Bom berupa kardus sebesar batu bata itu ditemukan Senior Inspektur (Kapten Polisi) Kasmen dari Bagian Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak Polri.

Kemudian, pada kebakaran ini, Kejagung sedang gencar menyelidiki kasus besar. Salah satunya dugaan penyelewengan dana asuransi PT Asuransi Jiwasraya dengan kerugian negara mencapai Rp 16 triliun.
 
Selain itu, Kejagung sedang mengusut dugaan korupsi importasi tekstil pada Direktorat Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai pada 2018-2020. Kasus ini merugikan negara hingga Rp1,6 triliun.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Hari Setiyono berharap publik tidak berspekulasi soal penyebab kebakaran. Masyarakat diharap menunggu penyelidikan dari polisi.
 
Hari menegaskan kebakaran tidak mengganggu proses penanganan kasus. Pasalnya, gedung yang terbakar tidak menyimpan berkas perkara, baik itu tindak pidana khusus seperti korupsi maupun tindak pidana umum.
 
“Sehingga terhadap berkas perkara yang terkait dengan tindak pidana korupsi 100 persen aman tidak ada masalah,” jelas Hari.

Di waktu yang berbeda, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menyebutkan kasus importasi tekstil harus terus berlanjut dan berharap tidak terimbas kebakaran yang terjadi di kompleks perkantoran kejagung.

“Kalau kasus importasi tekstil sudah clear. Kasus intinya yaitu 2 perusahaan kita harap segera sidang dan dikembangkan pada importasi lain yang dilakukan melalui pelabuhan lain” jelas Redma

Kalangan pertekstilan nasional sangat berharap Kejaksaan bisa mengungkap kasus ini hingga ke akar-akarnya. “Tangkap oknum lain yang terlibat” kata Redma saat dihubungi tekstilpost.id, Minggu lalu (23/08).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *