Industri Garmen Pontang-Panting Hadapi Pandemi

TEKSTILPOST.ID – Pandemi virus corona yang merebak secara global hingga di Tanah Air berdampak terhadap sektor industri manufaktur dengan skala tekanan yang beragam. Belum lagi pasar tekstil domestik dan ekspor ke luar negeri yang tergerus oleh produsen dari negara lain dalam beberapa waktu kebelakang. Pukulan makin berat akibat perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Permintaan pakaian di masa pandemi anjlok tajam seiring tutupnya mal dan pusat perbelanjaan hingga pusat tekstil seperti Pasar Tanah Abang, Jakarta. Selain itu, dampak COVID-19 paling besar terjadi pada penjualan ritel produk tekstil alias garmen.

Pada April lalu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan, bahwa setidaknya ada pengurangan 2,1 juta tenaga kerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Jutaan karyawan terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sebanyak 80% pekerja dirumahkan.

Pengurangan karyawan tersebut dilakukan karena utilitas produksi tekstil turun drastis hingga 90%. Sedangkan volume produksi anjlok hingga 85%.

Momen Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha pun tidak bisa lagi diharapkan pada tahun ini. Daya beli turun karena masyarakat tertekan pendapatannya terdampak virus COVID-19. Akibat permintaan lesu, omzet produk pakaian juga anjlok hingga 50%.

Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa Prompt Manufacturing Index (PMI) sektor tekstil, barang kulit dan alas kaki berada di posisi 19,1 pada kuartal II tahun 2020. Hal ini diramalkan oleh API bahwa kondisi industri TPT baru akan membaik secepatnya tahun depan.

“Saya sudah tanya ke semua pelaku usaha TPT, untuk kondisi TPT bisa kembali normal atau minimal mendekati normal butuh waktu 1-1,5 tahun. Pemulihannya tidak mudah” kata Sekretaris Eksekutif API Rizal Tanzil Rakhman.

Menurutnya, utilitas industri TPT baru akan kembali seperti kondisi normal secepatnya pada bulan Mei 2021. Dia juga menyampaikan bahwa Kementerian Perindustrian telah memprognosis pertumbuhan industri garmen akan terkontraksi sekitar 6%-8% secara tahunan.

Terkontraksi industri TPT akan sangat berpengaruh pada aliran kas perusahaan. Dampak yang paling buruk terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besar. Perlu diketahui, data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat bahwa industri tekstil menyerap 22,5% tenaga kerja industri. Tertulis pada data Kemenperin bahwa industri TPT menjadi industri yang mampu menyerap tenaga kerja terbanyak nomor dua setelah industri makanan.

Hal ini terlihat pada beberapa bulan kebelakang dimana ratusan buruh dibeberapa daerah menggelar unjuk rasa. Misalnya, ratusan karyawan PT Golden Flower di Ungaran Timur, Kabupaten Semarang menggelar demo di depan perusahaan, Senin (03/08) pekan lalu. Mereka menuntut kejelasan upah dan tunjangan hari raya (THR) yang dijanjikan oleh pihak perusahaan. Buruh PT Golden Flower  mengaku sudah dirumahkan selama 4 bulan. Selain itu, mereka mempertanyakan kejelasan status pekerja kepada pihak manajemen.

Adapun, karyawan perusahaan tekstil PT Sandang Sari Bandung yang digugat oleh perusahaannya sendiri di Pengadilan Negeri Kelas 1A Khusus Kota Bandung pada Selasa bulan lalu (14/07). Perusahaan berdalih buruh tekstil tersebut melanggar hukum karena melakukan unjuk rasa dan mogok kerja secara tidak sah.  Sri Hartati selaku Tim Advokat SBM F Sebumi mengungkapkan perusahaan hanya membayar 35% dari upah UMK dengan alasan kesulitan saat pandemi ini.

Selain itu, Ketua PC SPTSK SPSI Kabupaten Bandung Uben Yunara mengungkapkan bahwa ada 13.000 buruh yang saat ini menjadi korban PHK . Uben mengatakan bahwa untuk bulan ini mereka yang menjadi korban PHK sudah tidak sanggup membayaran kontrakan rumah dan kebutuhan sehari-hari.

Dalam kasus diatas dapat disimpulkan bahwa permasalahan terkait produkivitas perusahaan yang tak lancar akan mengakibatkan kesenjangan hidup lebih tinggi di Indonesia.

Tekstilpost.ID mencoba memberikan solusi terkait permasalahan industri garmen yang dihadapi ketika COVID-19 melanda di Indonesia.

1. Mengubah metode penjualan berbasis online

Ilustrasi seseorang sedang mem-posting produknya via online

Sejumlah marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak mengungkapkan beberapa jenis produk tekstil yang laris manis saat COVID-19 melanda di Indonesia. Padahal riset McKinsey menunjukan konsumen mengurangi belanja pakaian saat pandemi.

Bagian Public Relations Lead Shopee Aditya Maulana Noverdi mengatakan produk tekstil seperti masker kain meningkat selama COVID-19 melanda. Penjualan pakaian muslim juga meningkat  4x lipat saat bulan Ramadhan.

“Produk fesyen memang tidak masuk kategori yang paling banyak dibeli saat pandemi. Namun, kami melihat kategori ini memiliki  ruang gerak yang cukup luas untuk dapat disesuaikan” kata Aditya, Senin (13/07).

Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono juga mengungkapkan peningkatan penjualan pakaian pria, perempuan, dan anak-anak saat Ramadhan lalu.

“Kami melihat, ini karena adanya kebutuhan untuk silaturahmi melalui panggilan video (video call). Penjual juga bisa menyesuaikan produknya dengan kebutuhan konsumen untuk meningkatkan penjualan” ungkap Intan.

External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya mengakui juga bahwa adanya perubahan produk yang paling banyak dibeli selama masa pandemi. Berdasarkan data internal per Mei, kategori makanan dan minuman, perlengkapan rumah tangga, kesehatan dan elektronik paling populer.

“Penjual di luar kategori tersebut terus melakukan berbagai upaya untuk beradaptasi demi mempertahankan usahanya di tengah pandemi” ucap Ekhel.

Ekhel memberikan contoh, merk Batik Kultur yang berfokus menjual pakaian batik, sekarang kini menambahka varian produk berupa masker kain.

Pelaku usaha dengan merk Aleza pun menawarkan paket new normal yang berupa masker kain, pouch, tempat tissue dari kain, hand sanitizer dan desinfektan.

Usaha mikro seperti busana Nadjani dapat menyesuaikan produknya dengan kebutuhan konsumen. Merk ini sempat mengalami penurunan penjualan sampai 30%. Namun, omset Nadjani kembali stabil setelah bergabung dengan marketplace. Nadjani juga menambahkan produk seperti celemek dan mukena. Produk ini dibutuhkan masyarakat, karena lebih banyak beraktivitas dirumah.

2. Melakukan Inovasi Produk

BELL Bagikan Dividen. Dari kiri ke kanan, Direktur Utama PT Trisula Textile Industries (BELL) Karsongno Wongso Djaja, Direktur BELL Nurwulan Kusumawati, dan Direktur Independen BELL Handi Suwarto melihat Kain Sehat produksinya usai RUPST BELL, di Jakarta, Senin (15/6/2020)

Sejumlah industri tekstil melakukan inovasi untuk menghadapi era new normal. Salah satunya dilakukan oleh PT Trisula Textile Industries yang meluncurkan ‘Kain Sehat’.

Produk ini menggunakan kain khusus dengan memiliki kelebihan antimicrobial, water repellent, dan breathable. Hal ini diharapkan dapat menarik penerimaan bagi perusahaan di tengah pandemi.

Kain sehat ini sudah terverifikasi dengan Standard 100 dari OEKO-TEX dan telah melalui tes AATCC 42 dan AATCC 127 sehingga dapat digunakan dengan nyaman.

Direktur Utama PT Trisula Textile Industries Karsongno Wongso Djaja menjelaskan aplikasi produk kain sehat ini dalam bentuk jaket lipat (foldable jacket). Pakaian tersebut dapat digunakan untuk berkativitas sehari-hari oleh masyarakat.

“Jenis kain ini dapat kami aplikasikan kedalam jenis pakaian lain seperti celana, kemeja, topi hingga masker kain. Sedang kami kaji untuk pengembangan produk tersebut” kata Karsongno.

Beliau juga mengatakan bahwa varian produk ini akan disalurkan ke usaha pakaian ritel JOBB yang diakuisisi pada tahun ini. “Kami berharap dapat meningkatkan penerimaan perusahaan ditengah COVID-19 ini melalui pasar ritel” ucap Karsongno.

Sama halnya dengan inovasi yang dilakukan oleh Shafira Coorporation (Shafco) melalui ZOYA- Smart Daily Wear menghadirkan koleksi kerudung dan busana muslim yang dilengkapi teknologi HeiQ Viroblock

Teknologi yang diterapkan pada koleksi busana tersebut sudah teruji pada laboratorium Swiss Textile Innovator Heiq dan Peter Doherty Institute for Infection & Immunity di Melbourne. Selain bisa membunuh virus, teknolohi Heiq Viroblock tersebut juga teruji bisa membunuh bakteri dan jamur. Menariknya, ZOYA merupakan yang pertama di dunia dalam penerapan teknologi ini ke busana muslim.

3. Mengganti Material Kain Kapas menjadi Rayon

Kain Rayon

Rendahnya pasokan kain akibat pandemi Covid-19 berpotensi mengubah tren penggunaan jenis serat di dalam negeri. Dengan kata lain, pandemi Covid-19 di satu sisi berpotensi membuat neraca perdagangan serat menjadi lebih baik.

Kemenperin mendata neraca perdagangan industri serat pada 2019 defisit hingga US$ 0,95 miliar. Hal ini disebabkan yang notabenenya kapas tidak diproduksi di dalam negeri.

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) memprediksi  akan ada pengurangan volume impor serat kapas hingga 100.000 ton hingga akhir 2020. Pengurangan tersebut disebabkan oleh serat rayon yang notabenenya berlimpah di dalam negeri.

“Serat kapas diganti ke rayon. Trennya juga akan diganti sama polyester pada kuartal 4 di 2020. Ini akan bagus karena neraca dagang kita di serat akan membaik” kata Redma.

Menurut data yang diterima Redma, beberapa tahun terakhir pabrikan lokal mengimpor serat kapas sekitar 600.000 ton per tahun. Adapun, 400.000 ton akan diproduksi dan diekspor dalam bentuk pakaian jadi, sedangkan 200.000 ton akan digunakan untuk kebutuhan pasar domestik. 

Redma mengungkapkan bahwa pada tahun ini industri garmen maksimal hanya akan menggantikan penggunaan serat kapas sebesar 100.000 ton. Menurutnya,hal tersebut disebabkan oleh peningkatan konsumsi baju rumahan di dalam negeri. Seperti diketahui, baju rumahan menuntut pemakaian bahan baku yang lebih nyaman dan murah. Adapun, pakaian rumahan yang dimaksud adalah daster, kaos, dan jenis garmen sederhana lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *