Labelisasi Batikmark dengan Batik Indonesia

Sejak diresmikan sebagai warisan budaya dunia oleh dunia internasional melalui UNESCO pada tahun 2009, masyarakat Indonesia memiliki tanggung jawab dalam menjaga kelestarian batik. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong upaya menjaga dan melestarikan industri batik nasional.

Menurut SNI 0239: 2019 tentang Batik, bahwa batik merujuk pada kerajinan tangan sebagai hasil pewarnaan, secara perintangan menggunakan malam (lilin batik) panas sebagai perintang warna, dengan alat utama pelekat lilin batik berupa canting tulis dan atau canting cap untuk membentuk motif tertentu yang memiliki makna.

Salah satu upaya dalam melestarikan batik nasional ialah dengan mendorong peningkatan daya saing produk serta menjaga pasar dari serbuan produk impor. Kementerian Perinudstrian telah berperan aktif melakukan upaya- upaya perlindungan terhadap batik, seperti yang dilakukan melalui Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) di Yogyakarta sebagai bagian dari Komisi Teknis sub Komite Teknis Batik dan Produk Batik.

Upaya perlindungan yang dimaksud yakni diantaranya melalui standar kualitas batik dan produk batik dengan SNI. Selain itu, Kementerian Perindustrian juga telah merencanakan Labelisasi Batikmark dengan Batik Indonesia.

Labelisasi tersebut guna melestarikan dan melindungi batik Indonesia secara hukum dari berbagai ancaman dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) maupun dalam sektor perdagangan. Labelisasi juga dapat memberikan jaminan mutu batik Indonesia di dalam perdagangan sehingga mampu meningkatkan citra batik Indonesia di masyarakat Internasional.

Doddy Rahadi
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *