PT Ricky Putra Globalindo (RICY) Merugi di Semester I-2020

Bandung – Tahun ini akan menjadi periode yang cukup sulit bagi PT Ricky Putra Globalindo Tbk. Sepanjang Januari-Juni 2020, perusahaan tersebut yang dikenal dengan produk pakaian dalam bermerek GT Man tersebut hanya membukukan penjualan neto Rp. 530,06 miliar.

Realisasi tersebut merosot 49,62% bila dibanding realisasi penjualan neto pada semester I tahun 2019 yang mencapai Rp 1,05 triliun.

Penurunan pada penjualan neto disebabkan oleh penjualan pada sektor produk garmen dan spinning yang menyusut.

Melihat laporan keuangan perusahaan tersebut pada Senin (02/07), penjualan produk garmen perusahaan menurun hingga 12,28% secara year on year (yoy) atau tahunan menjadi Rp 437,70 miliar di semeter I di 2020., sementara penjualan produk spinning kolaps hingga  83,30% year on year menjadi Rp 93,35 miliar di semester I di 2020.

Sementara itu, terjadi penurunan pengeluaran pada beberapa pos beban. Harga pokok penjualan misalnya, tercatat menurun hingga 51,90% secara tahunan menjadi Rp 436,67 miliar di semester I di 2020. Pada periode sebelumnya, emiten dengan kode saham “RICY” ini, mencapai Rp 907,95 miliar di tahun 2019.

Penurunan pengeluaran juga ditemui pada beban penjualan serta beban umum administrasi . Beban penjualan RICY turun 10,41% yoy dari Rp 73,18 miliar di semester I 2019 menjadi Rp 65,55 miliar.

Sedangkan, untuk beban umum dan administrasi turun 24,25% dari Rp 35,63 miliar di semester I di 2019 menjadi Rp 26,99 miliar di semester I 2020.

Namun demikian, beban keuangan RICY mengalami kenaikan 19,24% yoy menjadi Rp 54,80 miliar di semester I 2020. Sebelumnya, beban keuangan RICY hanya mencapai Rp 45,95 pada semester I tahun lalu.

Selain itu, penghasilan lain RICY pun anjlok sebesar 70,18% yoy dari semula Rp 25,96 miliar di semester I tahun lalu menjadi Rp 7,73 miliar pada semester I di 2020.

Melihat data-data laporan keuangan, PT Ricky Putra Globalindo Tbk membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias rugi bersih sebesar Rp 56, 40 miliar. Angka tersebut dilihat dari penjualan neto dikurangi harga pokok penjualan, beban penjualan, serta pengeluaran-pengeluaran lainnya.

Posisi ini berbanding terbalik ketika RICY mencetak laba bersih sebesar Rp 1,79 miliar pada semester I di 2019.

Per 30 Juni 2020 lalu, total aset RICY tercatat sebesar Rp 1,61 triliun. Angka tersebut terdiri dari total ekuitas sebesar Rp 400,17 miliar dan total liabilitas sebesar Rp 1,21 triliun.

Sementara itu, kas dan setara kas akhir tahun perusahaan mencatat sebesar Rp 43,16 miliar per 30 Juni 2020. Angka tersebut turun 71,51% dibanding kas dan setara kas awal tahun perusahaan di tahun buku 2020 yang tercatat sebesar Rp 151,52 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *