Prediksi Dampak Resesi AS ke Indonesia Terhadap Tekstil dan Rupiah

Bandung – Amerika Serikat resmi mengumumkan masuk ke jurang resesi dengan perekonomian terkontraksi 39,2 persen pada kuartal II di 2020, menyusul pertumbuhan minus 5 persen pada kuartal I di 2020. Kondisi ini menempatkan AS ke ekonomi terburuk sejak 1947.

Resesi ekonomi ini terjadi setelah penyumbang utama ekonomi AS yakni konsumsi rumah tangga turun hingga 34,5 persen secara tahunan.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad memprediksi resesi AS akan berdampak pada perdagangan Indonesia. Pasalnya, AS merupakan negara tujuan ekspor terbesar kedua setelah China.

“Ketika AS mengalami resesi, konsumsi dan permintaan akan produk Indonesia akan menurun. Saya kira akan jadi masalah untuk barang-barang ekspor ke AS” kata Tauhid , Sabtu (01/08).

Menurut data Kementerian Perdagangan, 11,42 persen dari total ekspor non-migas RI berasal dari AS. Selama Januari-Mei 2020, AS menyerap 11,84 persen dari total ekspor non-migas Indonesia.

Tauhid menjelaskan beberapa komoditas utama yang selama ini mengandalkan pasar AS seperti tekstil, elektronik, produk nabati, dan beberapa produk berbasis sumber daya alam lainnya akan mengalami dampak terberat.

Ia mengatakan penurunan permintaan teah terasa sejak kuarta I tahun ini, setelah perdagangan dengan AS menurun 7% sejak Januari lalu.

Untuk nilai tukar rupiah, Tauhid menilai Indonesia akan diuntungkan dengan terapresiasinya rupiah. Dengan hantaman resesi, dolar AS otomatis akan merosot akibat menurunnya kepercayaan global.

“Karena AS resesi, otomatis nilai tukar rupiah semakin menguat karena kepercayaan terhadap dolar menurun” jelas Tauhid.

Sementara, untuk penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) juga bergerak dua arah. Indonesia dinilai diuntungkan dengan keluarnya penanaman modal di AS mengingat AS merupakan negara tujuan FDI terbesar  dunia.

“Untuk FDI dari AS ke Indonesia relatif kecil, AS tidak masuk salah satu investor terbesar di kita, jadi tidak terlalu pengaruh” ujar Tauhid.

Tauhid meramalkan dengan lesunya permintaan dan konsumsi di AS, harga minyak mentah juga ikut terperosok. Pemerintah bisa saja mengambil kesempatan untuk beli di harga murah dan menampung dalam jumlah banyak sehingga harga BBM dapat ditekan.

Namun, melihat kilang penampungan PT Pertamina yang terbatas, Tauhid melihat pesimisnya pemerintah dalam mengambil kesempatan tersebut. Apalagi, di tengah seretnya keuangan Pertamina.

Ekonom Perbanas Institute Piter Abdullah menilai dampak COVID-19 untuk negara-negara yang mengandalkan ekspor seperti AS tinggal menunggu waktu hingga menyatakan mengalami resesi.

Namun, berbeda dari Indonesia yang mengandalkan konsumsi dalam negeri sehingga dampak resesi AS terhadap Indoensia minim.

“Indonesia tidak bergantung ekspor sehingga resesi AS dan di banyak negara tidak akan menambah buruk perekonomian dalam negeri” paparnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *