Laba Sritex Turun 8% Akibat Corona

Bandung – Laba bersih PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) pada semester I di 2020 turun 8% menjadi US$ 49,83 juta setara Rp 732,44 miliar (kurs: Rp 14.700 per US$) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 54,15 juta.

Berdasarkan laporan keuangan Sritex semester I di 2020 penurunan laba dipicu oleh turunnya penjualan sebesar 3,83% menjadi US$ 608,23 juta setara Rp 8,93 triliun dari US$ 632,44 juta pada semester I di 2019. Penurunan terbesar berasal dari kegiatan ekspor yakni sebesar 11,93% menjadi US$ 332,64 juta dari US$ 377,69 juta.

Berdasarkan produknya, ekspor produk benang turun paling dalam sebesar 12,5% menjadi 125,35 juta, turun 12,5% secara tahunan dari US$ 143,26 juta. Begitu pula dengan ekspor pakaian jadi yang senilai US$ 90,99 juta turun menjad 15,39% dari US$ 107,54 juta.

Untuk total penjualan Sritex pada pasar dalam negeri pada semester I di 2020 naik 8,18% menjadi US$ 27,58 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dimana Sritex mendapatkan nilai penjualan US$ 254,74 juta.

Kenaikan penjualan di pasar domestik, terjadi pada produk pakaian jadi, dimana Sritex mengantongi penjualan senilai US$ 83,97 juta pada semester I di 2020 atau melonjak hingga 36,8% dibandingkan US$ 61,39 juta pada semester I tahun lalu.

Kenaikan penjualan juga  terjadi pada produk kain jadi di pasar domestik. Dalam eam bulan pertama tahun ini penjualannya US$ 65,71 juta naik 5,29% dari periode sama tahun lalu US$ 62,4 juta.

Pada produk lain seperti benang, Sritex hanya mengantongi penjualan dalam negeri senilai US$ 108,03 juta turun 2,55% dari US$ 110,85 juta. Penjualan kain mentah pun hanya US$ 17,86 juta atau turun 11,08% dari US$ 20,09 juta.

Meski begitu, Sritex berhasil menekan beban pokok penjualan pada semester I 2020 menjadi US$ 497,49 juta turun 1,38% dari US$ 504,47 juta. Sementara itu, beban penjualan tercatat senilai US$ 7,82 juta pada semester I 2020 atau turun 4,99% dari US$ 8,23 juta pada semester I 2019.

Sritex juga berhasil menurunkan kerugian bersih atas selisih kurs menjadi US$ 287,52 ribu dari sebelumnya US$ 389,59 ribu. Tetapi, penurunan beban dan penurunan rugi selisih kurs, tidak bisa menutupi penurunan penjualan karena laba dari operasi Sritex turun 18,46% menjadi US$ 83,46 juta dari US$ 102,36 juta.

Pihak Sritex menjelaskan dampak pandemi COVID-19 memungkinkan penurunan permintaan pasar ekspor karena penutupan sementara dan berkurangnya jam kerja. Namun, pihaknya sudah mengantisipasi hal tersebut untuk tetap menjaga pendapatan perusahaan.

“Kami telah mengantisipasi hal tersebut dengan memproduksi produk yang dibutuhkan selama menghadapi virus corona” kata manajemen Sritex dalam laporan keuangan perusahaan, Sabtu (01/08).

Beberapa produk yang diproduksi Sritex yakni masker dan pakaian pelindung diri anti virus yang saat ini permintaannya sangat tinggi. Manajemen pun memutuskan untuk menambah jam kerja di departemen-departemen tersebut.

Namun, manajemen tidak dapat menaksir secara wajar soal lama atau besarnya pandemi ini. Saat ini manajemen mengantisipasi dampak material yang merugikan pada laporan keuangan, hasil operasi dan laporan arus kas konsolidasi pada tahun fiskal 2020.

Menurut data Bank Indonesia (BI), sektor tekstil, barang kulit dan alas kaki memiliki nilai Indeks Manufaktur (Prompt Manufacturing Index/PMI) sebesar 47,2%.

PMI mendeskripsikan situasi industri pengolahan saat ini dan prediksi pada periode selanjutnya. Batas PMI sebesar 50% , diatas angka tersebut maka sektor dapat berekspansi. Sebaliknya, berada di bawah 50% berarti sektor mengalami kontraksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *