Akibat Work From Home, Konsumsi Rayon Tinggi

Bandung – Konsumsi serat rayon diramalkan akan meningkat pada semester II/2020 walaupun dalam masa pandemi COVID-19

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan impor serat kapas untuk kebutuhan lokal akan berkurang setidaknya 50% dari total volume impor biasanya.

Volume impor kapas biasanya digunakan untuk pasar domestik adalah sekitar 200.000 ton per tahun

“Kami berharap impor kapas turun untuk produk-produk tertentu untuk pemakaian dalam negeri” kata Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh, Kamis (29/07).

Perlu diketahui, serat kapas biasanya digunakan untuk memproduksi pakaian jadi bagi konsumen kelas menengah ke atas. Serat rayon, polyester, maupun campuran keduanya saat ini umumnya digunakan untuk pakaian jadi konsumen kelas menengah dan menengah ke bawah.

Tingginya penggunaan bahan baku berbasis rayon dan polyester disebabkan oleh volume produksi lokal yang tinggi dan ketersediaan yang tinggi. Hasilnya, harga kain yang berbasis serat rayon dan polyester cukup terjangkau oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tekstil.

Untuk tren pasar tekstil dan produk tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional adalah meningkatnya konsumsi garmen untuk kelas menengah ke bawah,  khususnya pada produk pakaian rumahan seperti piyama, kaos, daster, dan lainnya. Dengan demikian, konsumsi rayon dan polyester oleh UKM TPT meningkat di pasar domestik.

“Sekarang lebih banyak kondisi teaga kerja yang work from home daripada di kantor. Jadi permintaan baju kerja turun. Maka dari itu, mall masih sepi, tetapi pasar tradisional masih ramai” jelas Elis.

Elis menjelaskan rata-rata utilitas pabrik garmen berkualitas tinggi saat ini berada di kisaran 50%. Namun demikian, rata-rata utilitas industri garmen untuk konsumen menengah ke bawah telah lebih dari 100% pada bulan ini.

Di waktu berbeda, Direktur PT Asia Pasific Rayon (APR) Basrie Kamba mengatakan ajakan untuk membeli produk Tanah Air perlu disiasati dengan benar. Pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai asosiasi untuk mendapatkan fasilitas UKM TPT agar mendapatkan bahan baku dengan harga dan volume sesuai kapasitas.

Dalam waktu dekat, APR akan meresmikan fasilitas untuk pengembangan kewirausahaan dan keterampilan khusus para fashion designer dalam negeri.

Basrie mencatat saat ini utilitas APR berada di level 100% dengan kapasitas produksi mencapai 240.000 ton per tahun. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) mencatat saat ini produksi industri rayon nasional mencapai sekitar 800.000 ton per tahun.

Dengan kata lain, APR memproduksi sekitar 30% dari total produksi rayon nasional. APSyFI pun melaporkan APR akan menambah kapasitas industri rayon nasional mencapai 1 juta ton per tahun pada tahun 2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi nasional serat rayon di tahun 2019 naik sebesar 3 persen secara tahunan menjadi 357.000 ton. Adapun volume produksi melonjak sejumlah 660.000 ton atau 40%.

Untuk volume impor serat rayon merosot hingga 48% dari 95.000 ton pada 2018 menjadi 49.000, sedangkan volume ekspor meroket 61% menjadi 352.000 ton. Sehingga, neraca dagang industri rayon surplus  di tahun 2019 mencapai 303.000 ton pada 2019 atau naik 146% dari realisasi 2018.

Berdasarkan data Kemenperin, setidaknya ada lebih dari 500.000 unit UKM di industri TPT pada akhir 2019. Adapun, UKM di industri TPT terdapat pada industri antara yakni sebanyak 131.000 unit dan industri garmen sebanyak 407.000 unit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *