Kali Surabaya Tercemar Akibat Limbah Industri Tekstil

Surabaya – Ecoton, sebuah lembaga kajian ekologi lahan basah, mempublikasikan hasil penelitian terhadap Kali Surabaya mengandung mikro plastik. Polutan tersebut diduga berasal dari pembuangan limbah industri tekstil di wilayah Kabupaten Gresik. Industri tersebut belum memiliki manajemen pengelolaan sampah yang baik.

Kali Surabaya terbentang mulai dari pintu air Mlirip Mojokerto hingga Jagir, Surabaya. Aliran sungai itu melewati empat kabupaten/kota antara lain Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya.

Peneliti Ecoton Eka Chlara Budiarti mengungkapkan lokasi hilir Kali Mas di kawasan Petekan, menunjukan jumlah yang tinggi pada penelitian April 2020 lalu dibandingkan mikroplastik di Mlirip, Karang Pilang, Joyoboyo, dan Kayun. Jumlah mikroplastik di Kali Mas yakni 2,92 partikel per liter, di Joyoboyo 2,5 partikel per liter, dan di Mlirip hanya 1,4 partikel per liter. Pada penelitian ini juga telah ditemukan 10 partikel dalam 100 liter, yakni jenis serat filamen.

“Tidak ada kontrol limbah domestik seperti air bekas cuci pakaian yang memiliki serat tekstil plastik. Jenis serat berasal dari limbah pabrik tekstil, usaha cuci pakaian , dan limbah rumah tangga” kata Eka, Selasa (28/07)

Mikroplastik mengandung banyak bahan kimia berbahaya apabila memasuki tubuh manusia. Kandungan phthalate (pelentur/pelembut) dan bisphenol A (pengeras) dikenal sebagai senyawa yang menganggu hormon, Zat tersebut berpotensi menganggu sistem imun manusia.

Mikroplastik memiliki ikatan terbuka sehingga bisa mengikat senyawa/zat berbahaya dalam perairan. Beberapa diantaranya seperti logam berat, pestisida, detergen, dan senyawa pengganggu hormon. Mikroplastik juga bisa menjadi media pembawa bakteri patogen ke tubuh manusia. Hal ini dapat mengakibatkan infeksi di tubuh manusia.

Ecoton juga menyoroti pengelolaan sampah alat pelindung diri (APD). Ini dikarenakan semakin banyak masyarakat yang mengunakan masker sekali pakai, face shield, hingga hazmat, yang kini menjadi penyumbang sampah.

“Kalau yang dilakukan tenaga medis dikategorikan B3 dan langsung dikelola khusus. Khawatirnya kita adalah yang digunakan masyarakat, karena manajemen persampahan kita belum bagus” kata Andreas, salah satu peneliti Ecoton.

Dengan terjadinya pencemaran mikroplastik di Kali Surabaya, Ecoton menuntut adanya tanggung jawab dari produsen yang menghasilkan sampah. Terlebih lagi mereka menyumbang sampah plastik dan polusi mikroplastik di Kali Surabaya. Bungkusan yang dihasilkan produsen halus didaur ulang secara khusus mengingat pengelolaannya cukup sulit.

“Sudah ada peraturan mengenai produsen yang harus mengelola kemasan plastik dan itu kewajiban perusahaan” tegas Andreas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *