Dampak Pandemi, Industri Garmen Terancam Tutup

Bogor – Dampak pandemi masih saja menjadi salah satu hal yang menakutkan bagi beberapa sektor bisnis. Salah satunya sektor produksi pakaian atau garmen.

Misalnya, pabrik garmen CV Junction Garmindo yang kesulitan bahan baku. Pabrik ini berlokasi di Jalan Cibadak, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

Staff Accouting CV Junction Garmindo Karlina Kurniawan mengatakan selama ini tempatnya masih beroperasi karena masih menyelesaikan oderan yang tersisa.

“Ini kita masih produksi hanya untuk orderan tersisa, karena selama Agustus nanti kita berhenti sementara” kata Karlina, (28/07).

Pemberhentian produksi selama Agustus nanti disebabkan susahnya bahan baku. Pihaknya harus mengikuti garmen lainnya yang sudah berproduksi lebih dahulu. Meski sudah ada kontrak kerja tapi terpaksa ditunda atau diundur.

Karlina mengaku sempat kewalahan menerima permintaan garmen sekitar yang sudah tidak berproduksi lebih awal.

“Untuk produksi garmen cuma untuk wilayah ini. Jadi beberapa industri garmen yang tutup, minta ke kita dan kita tidak sanggup karena bahan baku” ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa selama pandemi ini omzet yang diterima jauh menurun. Biasanya omzet Lebaran itu bisa sampai Rp 100 juta. Perusahaan tersebut memiliki 62 karyawan yang bisa memproduksi 700 pieces per hari.  

Dengan penghentian sementara CV Junction Garmindo membuat catatan buruk bagi industri garmen agar dapat bertahan ditengah pandemi. Menurut data Asosiasi Pertekstilan Indonesia, sekitar 80% perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) yang telah menghentikan seluruh aktivitasnya untuk sementara oleh karena kondisi pasar lokal, ekspor lesu, dan adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB).

Seiring dengan hal tersebut, data sementara API mencatat sekitar 1,8 juta tenaga kerja di sektor TPT telah dirumahkan sementara. Sebagian diantaranya bahkan tercatat sudah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *