Inovasi Busana Cottonology di Tengah Pandemi

TEKSTILPOST.ID – Produsen fesyen asal Bandung, Cottonology telah melewati masa krisis pandemi selama 3 bulan pertama. Industri fesyen merupakan salah satu yang terdampak akibat pandemi.

Cottonology adalah bagian dari PT GM Textile, perusahaan yang eksis di tanah air lebih dari 60 tahun berkarya yang berfokus pada produksi kain tenun. Produk yang dipasarkan oleh Cottonology adalah produk pakaian pria.

Pendiri Cottonology Carolina Danella Laksono mencatat produknya mengalami penaikan penjualan sebanyak 60% selama pandemi. Salah satu faktornya adalah peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan pemerintah untuk  daerah yang masuk dalam zona merah dan kuning.

Pemasaran online  yang mendominasi pertumbuhan bisnis Cottonology membuat masyarakat di berbagai daerah memilih untuk membeli produk pakaian untuk bekerja dan bersantai di rumah lewat marketplace  yang populer di Indonesia.

“Produk yang cukup diminati saat pandemi ini adalah celana boxer, karena cocok dipakai dirumah, juga karena mayoritas sudah work from home” kata Carolina, Sabtu (18/07).

Carolina menjelaskan bahan katunnya juga nyaman, karena banyak konsumen yang bekerja dirumah sambil pegang gadget duduk dilantai membuat mereka lebih suka pakai celana yang nyaman bahannya.

“Kami menerapkan strategi untuk tetap bertahan di masa sulit seperti ini dengan kreativitas tanpa mengurangi kualitas dalam menciptakan produk-produk baru” menurut lulusan University of California, Berkeley ini.

Cattonology juga memahami bahwa daya beli konsumen untuk produk fesyen menurun, namun perusahaan tersebut tidak melupakan kualitas produknya. Selain bahan katun pilihan, Cattonology menggunakan zat pewarna khusus dari Jepang sehingga proses pencucian tidak akan luntur hingga 70 kali.

“Supaya semua lapisan dapat membelinya, kami menerapkan harga yang terjangkau untuk semua kalangan. Kami juga masih bisa menyerap tenaga kerja baru dibagian produksi diatas 5%. Ini cukup signifikan dalam menggerakan sektor mikro di Bandung” ucap Carolina.

Carolina menungkapkan bahwa kemeja menjadi salah satu produk terlaris Cottonology, karena desainnya yang mengikuti tren pasar dengan menggunakan teknik tenun, jadi corak luar dan dalam bajunya sama.

Dia juga mengatakan bahwa ada tiga orang desainer lulusan teknologi tekstil yang ahli dalam mengoperasikan mesin-mesin buatan Jerman dan Jepang yang di miliki Cottonology.

“Saat ini kami sedang merilis parfum Cottonology Ocean Blue. Bagi kami, fesyen itu bukan tentang apa yang kita lihat, melainkan juga apa yang kita rasa. Bagi kami, fashion adalah aktualisasi diri secara utuh, bukan sekedar pandangan saja” ucap Carolina.

Cottonology saat ini telah menjual lebih dari 400 ribu item pakaian pria di seluruh Indonesia. Dalam produksinya, UKM ini melibatkan penjahit lokal di sekitar Bandung yang terdiri dari perajin rumahan, individu dan lepasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *