Tingginya Impor APD dan Masker di Tengah Surplusnya Produksi Lokal

TEKSTILPOST.ID – Tingginya impor alat pelindung diri dan masker medis dipertanyakan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Sebab, pemangku kepentingan sudah sepakat pada akhir kuartal I/2020 akan menggunakan produk lokal. Namun pada realitanya di awal kuartal II/2020 impor terhadap alat pelindung diri dan masker medis sangat tinggi.

Rizal Tanzil Rakhman selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyampaikan bahwa pihaknya diundang untuk mengikuti rapat virtual lintas instansi pada Maret 2020 oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Anggota rapat tersebut diantaranya merupakan perwakilan dari Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI), Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, dan industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

“Lonjakan impor tersebut lantaran produksi lokal seperti alat pelindung diri (APD) dan masker medis telah jauh melebihi kebutuhan nasional” kata Rizal, Kamis pekan lalu (02/07).

Menurut API, secara rata-rata produksi alat pelindung diri dan masker medis nasional telah mengalami surplus sekitar 580 juta unit hingga akhir 2020.

Rizal mengatakan bahwa Kemenkes telah memutuskan untuk melakukan importasi alat pelindung diri dan masker medis pada masa pengembangan kain. Dalam hal ini menurut Rizal Kemenkes telah berdalih bahwa produksi alat pelindung diri dan masker medis produksi lokal membutuhkan waktu yang lama. Maka dari itu, ia mempertanyakan komitmen dalam menggunakan alat pelindung diri dan masker medis pada Kemenkes. Pasalnya, beberapa pihak Kemenkes masih ada yang berpendirian teguh untuk menggunakan alat pelindung diri ataupun masker medis yang berbahan non-woven spundbond polypropilene.

Sementara itu, Woven polyester adalah bahan baku yang telah disepakati dalam rapat virtual lintas instansi pada Maret 2020 untuk alat pelindung diri dan masker medis yang akan diproduksi pabrikan lokal. Hal ini disebabkan kapasitas bahan baku dari kain non-woven spundbond polypropilene yaitu meltbond hanya 100.000 ton per tahun.

“Pihak Kemenkes yang inginnya APD maupun masker berbahan spunbond aja. Padahal, yang kami produksi adalah woven polyester sudah kami tes dan lulus uji. Atau, mungkin ada yang main untuk kepentingan yang lain,” pungkas Rizal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *