APSyFI Sesalkan Impor Tekstil Kembali Ke Pasar Lokal

TEKSTILPOST.ID – Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menyesalkan produk impor yang kembali membanjiri pasar domestik.  Sekretaris Jendral APSyFI pun mengatakan bahwa tingkat produksi industri di Indonesia masih jauh dari tahap normal.

Redma Gita Wirawasta selaku Sekjen APSyFI menjelaskan hal tersebut dikarenakan belum menunjukan peningkatan produksi karena permintaan dari sektor industri kain belum menunjukan aktifitas yang signifikan.

“Industri kain masih enggan mengambil resiko stok. Walaupun permintaan pasar menuju normal, tetapi pasar domestik kita dibanjiri produk impor lagi. Padahal pasar domestik menjadi andalan bagi sebagian besar produsen benang ” kata Redma saat memberi keterangan kepada tekstilpost.id, di Bandung, Rabu (15/07).

Sebelumnya, APSyFi memprediksi pada bulan Juli produktifitas industri akan mulai jalan dan bertahap akan kembali normal bulan September, dengan syarat pasar domestik menyerap sebagian besar produksi.

“Kami kira pada kuartal III bisa kembali menikmati pasar lokal seperti kuartal I tetapi pasar dibanjiri produk impor lagi” keluh Redma.

Redma menjelaskan kuartal I di 2020 ini, barang impor masih minim dipasar lokal sehingga kondisi pasar sangat mendukung produk lokal  akibat penutupan Pusat Logistik Berikat (PLB) tekstil dan diberlakukannya safeguard  benang dan kain. Sedangkan di kuartal II di 2020 kegiatan pasar hanya tersisa 10% karena berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang memaksa industri menonaktifkan sebagian besar lini produksi dan merumahkan pekerjanya.

APSyFI secara tegas meminta pemerintah agar segera merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.77 Tahun 2019 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Menteri Perdagangan No. 85/M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil.  Aturan itu sangat tidak sesuai dengan semangat  mengendalikan impor.

“Saat pemulihan ekonomi dari COVID-19 ini kita perlu pasar domestik untuk produk nasional agar rakyat bisa kembali bekerja dan memperoleh penghasilan kembali” ucap Redma.

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia Suharno Rusdi mengatakan kasus impor yang terjadi di Batam yang melibatkan oknum Bea Cukai menjadi tersangka bersama 5 orang lainnya menajdi potret praktik impor yang  tidak sesuai prosedural masih ada.

“Modus impor seperti ini adalah legal karena sepengetahuan Bea Cukai, tetapi menjadi tidak sesuai prosedur karena masuk dengan melanggar sejumlah administrasi  yang seharusnya. Pelanggaran prosedural yang lazim yang terjadi di pelabuhan adalah impor borongan, meskipun beberapa tahun sebelumnya Bea Cukai selalu menghindar,  toh akhirnya bisa di bubarkan oleh Menteri Keuangan lewat Satgas PIBT pada Agustus 2017” jelas Suharno.

Suharno berpendapat bahwa pasca pembubaran impor borongan, waktu produk lokal menikmati pasar domestik hanya sebentar karena produk impor kembali masuk ke pasar. Dengan fasilitas PLB yang sepertinya memang dipersiapkan sebagai upaya melegalisasi impor borongan.

IKATSI juga menolak secara tegas legalisasi praktik unprosedural dan merelaksasi aturan impor dengan alasan dibutuhkan untuk mengisi kekosongan pasar domestik. Pasalnya, industri dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan kebtuhan untuk pasar domestik, bahkan utilisasinya masih dibawah 50%.

Perintah Presiden kan jelas bahwa barang yang sudah bisa diproduksi didalam negeri tidak perlu di impor. Yang tau persis produksi lokal itu Kementerian Perindustrian bukan Kementerian Perdagangan apalagi Bea Cukai, jadi jangan over-lapping” tegas Suharno

IKATSI juga meminta Presiden Joko Widodo untuk tegas dalam membereskan urusan impor karena telah memakan banyak industri lokal, tenaga kerja dan menyebabkan kerugian negara yang cukup besar.

“Kalau impor resmi kan ada PPH, PPN dan ada bea masuk tambahan dari safeguard. Kalau impor turun, negara dapat masukan bea masuk yang dibayarkan oleh produsen dalam negeri. Kalau impor borongan, negara dapat apa?” pungkas Suharno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *