Buruh Tekstil Melakukan Protes Ke Sejumlah Perusahaan

Bandung – Sejumlah buruh melakukan aksi protes kepada sejumlah perusahaan tekstil. Hal ini dipicu karena perusahaan enggan memberikan tunjangan hari raya (THR) kepada pekerja saat COVID-19 melanda. Perusahaan beralasan merugi sehingga membayar THR hanya separuh dari jumlah semestinya.

Buruh PT Crevis Tex Jaya. Mereka menuntut gaji dan THR karyawan dibayar penuh. Aksi mogok kerja berlangsung dari pagi hingga Rabu malam (13/05). Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, H. Kusman Yuhana mendatangi aksi massa tersebut.

“Pihak perusahaan mengeluarkan surat keputusan yang ditandatangani Direktur PT Crevis Tex Jaya pada tanggal 13 Mei 2020 yang menyatakan bahwa gaji karyawan akan dibayar 50% dan THR sebesar 20% yang akan dibayar paling lambat 20 Mei mendatang” ujar Kusman saat memberikan keterangan kepada ribuan pekerja, di Subang.

Di Bandung, sekitar 300 buruh CV Sandang Sari melakukan aksi mogok kerja dan menginap dipabrik hingga hari Kamis (14/05). Hal ini dipicu karena memo internal perusahaan yang menjelaskan pembayaran THR dicicil sebanyak tiga kali. Pencicilan tersebut dinilai memberatkan hidup buruh dan keluarganya mengingat bulan sebelumnya pun buruh tidak menerima upah penuh. Sepanjang tanggal 6-26 April 2020, CV Sandang Sari meliburkan pekerjanya guna memutus mata rantai COVID-19.

Menanggapi memo perusahaan tersebut, para pekerja sempat mengajukan perundingan bipartit dengan perusahaan. Namun, pihak perusahaan tidak menampik ajakan perundingan tersebut dan hanya bersedia berbicara melalui pengacaranya. Direktur CV Sandang Sari berdalih, dengan dikeluarkannya memo internal tersebut maka tidak ada perkara yang harus dirundingkan lagi.

Hal serupa dialami oleh serikat buruh FSPMI dan SPSI yang berjumlah 500 buruh PT. Win Textile melakukan aksi protes di halaman kantor manajemen pabrik, hari Selasa (12/05). Buruh-buruh tersebut menuntut pembayaran THR dibayar penuh. Buruh tetap masuk kerja seperti biasa dan tidak diliburkan selama masa pandemi.

“Berkat bersatunya kedua serikat alhamdulillah tuntutan dapat dipenuhi. Kami juga mengkritik Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan yang dinilai memberikan celah bagi perusahaan tidak membayar THR secara penuh” kata Dodit saat dimintai keterangan di Purwakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *