Kemenperin Akui Edukasi Tekstil ke Tenaga Kesehatan Rendah Jadi Penyebab Impor Masker Tinggi

TEKSTILPOST.ID – Industri masker nasional saat ini dipenuhi dengan produk impor. Hal ini karena minimnya edukasi ke tenaga kesehatan dan Kementerian Kesehatan mengenai produk tekstil. Dengan demikian, dibukanya jalur ekspor dinilai menjadi langkah yang perlu diambil pemerintah.

Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Elis Masitoh menduga hal tersebut disebabkan minimnya edukasi tenaga kesehatan mengenai jenis kain. Produk impor untuk masker dan pakaian medis menggunakan kain nonwoven spunbond polypropilene, sedangkan industri dalam negeri menggunakan kain woven polyester.

“Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa user menginginkan pakaian medis yang ringan dan nyaman dipakai adalah kain yang berbahan nonwoven” kata Elis, di Jakarta, Senin (06/07).

Elis juga mengatakan bahwa kain woven polyester yang telah dikembangkan oleh industri dalam negeri memiliki karakteristik lebih nyaman. Kain tersebut memiliki sirkulasi udara yang lebih baik, ringan, menyerap keringat, dan memiliki karakterisitik antibakteri dan antivirus yang bersamaan.

Selain itu, masker dan pakaian medis berbahan woven dapat didaur ulang menjadi benang dan diproduksi kembali. “Kalau masker maupun APD medis nonwoven lebih mudah sobek dan pengelolaan limbahnya lebih sulit. Khawatirnya untuk pengelolaan limbahnya lebih bermasalah” ucap Elis.

Hampir seluruh produsen masker dan pakaian medis telah menggunakan ISO 16604:2004. Salah satu komponen penting untuk mendapatkan sertifikasi tersebut adalah terpenetrasi atau tidaknya sebuah pakaian dari penetrasi virus pada tekanan hidrostatik yang spesifik.

Elis menambahkan pihaknya akan mengamati terus menerus pertumbuhan volume impor masker dan pakaian medis di dalam negeri. Jika pihakya menemukan lonjakan impor selama 3 bulan kedepan, maka pihaknya akan mengembalikan aturan bea masuk maupu impor lainnya terkait kedua produk tersebut seperti semula.

Diketahui, industri tekstil dan produk tekstil secara umum memiliki integrasi antara industri hulu dan hilir yang lengkap. Elis pun mencatat volume impor serat polyester maupun polypropilene untuk memproduksi masker dan pakaian medis di dalam negeri masih tinggi. Hal ini disebabkan minimnya produsen yang mengubah cip polipropilene maupun polyester menjadi serat. “Memang kita punya banyak polypropilene dan polyester, tapi hanya sedikit perusahaan yang produksi seratnya karena mesin meltbond-nya belum banyak” kata Elis.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada lonjakan impor pada produk masker dan alat pelindung diri. Lonjakan impor pada produk tersebut tercantum pada Peraturan Menteri Perdagangan No.23/2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dan Masker.

Bulan April 2020 tercatat impor pakaian pelindung medis naik paling tinggi secara bulanan atau lebih dari 45 kali lipat menjadi 166,1 ton. Sedangkan impor pakaian bedah melonjak 813,74 persen menjadi 12,2 ton.

Selama Januari-April 2020, impor pakaian pelindung medis naik lebih dari 19 kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama dengan tahun lalu menjadi 167 ton. Untuk impor pakaian bedah naik 89,72 persen secara tahunan menjadi 14,8 ton.

Jika diasumsikan satu unit pakaian pelindung medis dan pakaian bedah memiliki berat 250 gram, impor tersebut sudah memenuhi permintaan pakaian pelindung medis dan pakaian bedah nasional pada bulan April yang masing-masing sebesar 62,34 persen dan 12,24 persen.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendata selama 8 bulan terakhir perkembangan permintaan pakaian pelindung medis dan pakaian bedah. Data tersebut menunjukan permintaan pakaian pelindung medis per bulan mencapai 1,06 juta unit, sedangkan pakaian bedah sebesar 401.622 unit.

Catatan Kemenperin menunjukan pabrikan garmen lokal telah meningkat kapasitas produksinya untuk kedua pakaian tersebut sejak April 2020. Ada 72 pabrikan pakaian medis kini memiliki kapasitas produksi sebesar 45,6 juta unit per bulan, sedangkan 16 pabrikan pakaian bedah kini memiliki kapasitas produksi hingga 2,05 juta unit per bulan.

Disisi lain, impor tekstil untuk masker bedah per April 2020 meroket sekitar 12 kali lipat secara bulanan menjadi 541,2 ton. Selama bulan Januari-April 2020 volumen impor masker tersebut naik 67,1 persen menjadi 1.034 ton.

Jika sebuah masker memiliki berat 10 gram, impor masker bedah dan masker nonwoven lainnya mencapai 39,2 juta unit dan 54,1 juta unit per April 2020. Volume impor tersebut dapat memenuhi permintaan masker medis nasional setidaknya selama April-Agustus.

Berdasarkan catatan Kemenperin, produsen lokal dapat memproduksi dua jenis masker bedah, yakni masker N95 dan masker bedah umum. Volume produksi kedua jenis masker tersebut masing-masing diproyeksikan sebesar 2,2 juta unit dan 2,08 miliar unit.

Jika melihat permintaan kedua jenis masker tersebut selama April-Desember 2020, pabrikan lokal belum dapay memenuhi permintaan masker N95 sejumlah 5,3 juta unit. Sementara, produksi masker bedah umum oversupply hingga 1,95 miliar unit.

Sederhananya, kemampuan industri pakaian dan masker nasional telah mencukupi permintaan nasional sejak April 2020, kecuali untuk masker N95. Namun demikian, volume impor masker dan pakaian medis pada bulan yang sama melonjak baik secara bulanan maupun secara tahunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *