APINDO dan 16 Asosiasi Industri Usul FABA Tidak Masuk Limbah B3

TEKSTILPOST.ID – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) bersama 16 asosiasi yang tergabung didalamnya mengusulkan agar fly ash dan bottom ash (FABA) untuk keluar dari daftar limbah B3 di Tabel 4 Lampiran I Peraturan Pemerintah Nomer 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

“16 asosiasi yang tergabung dalam APINDO tersebut sepakat untuk mengusulkan delisting FABA. Berdasarkan hasil uji menyatakan bahwa FABA bukan merupakan limbah B3” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat APINDO Haryadi B. Sukamdani saat memberikan keterangan, di Jakarta, Senin (06/07).

Asosiasi tersebut diantaranya Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI), Indonesian Mining Association (IMA), Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Asosiasi Kimia Dasar Anorganik Indonesia (AKIDA), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Produsen Serat Benang dan Filament Indonesia (APSyFI), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA), Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI), Asosiasi Industri Olefin, Aromatik & Plastik Indonesia (INAPLAS), dan Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI).

FABA saat ini masih dikategorikan sebagai limbah B3. FABA yang dihasilkan berkisar antara 10 juta-15 juta ton/tahun. Hasil uji karakteristik mudah meledak, mudah menala, reaktif, infeksius dan/atau korosif, uji toksiologi Lethal Dose-50 (LD50), serta Toxicity Leaching Procedure (TLCP) dari beberapa uji petik kegiatan industri menunjukan bahwa FABA tersebut memenuhi baku mutu/ambang batas persyaratan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014, sehingga dikategorikan sebagai limbah non-B3, seperti di negara-negara lain diantaranya China, India, Jepang, Vietnam dan Amerika Serikat.

Di negara-negara tersebut, Faba dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi seperti campuran semen untuk pembentukan jalan, jembatan, timbunan, reklamasi bekas tambang, serta untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida mengungkapkan bahwa rate kegiatan pemanfaatan FABA di Indonesia masih tergolong kecil yakni 0% – 0,96% untuk pemanfaatan fly ash dan 0,05% – 1,98% untuk pemanfaatan bottom ash.

“Rate pemanfaatan FABA dalam negeri pun kalah dengan negara-negara tersebut, berkisar antara 44,8% – 86%” ujar Liana.

Pada tanggal 4 Mei 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 10 Tahun 2020 tentang Tata Cara Uji Karakteristik dan Penetapan Status Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Proses pembuatan Peraturan Menteri tersebut tanpa melibatkan pelaku usaha dan industri, sehingga peraturan tersebut sulit diimplementasikan dan pengecualian dari pengelolaan limbah B3 tidak sesuai dengan tujuan diterbitkannya peraturan tersebut.

“Akhirnya, karena Permen LHK No. 10 Tahun 2020 diterbitkan tidak sesuai dengan tujuan, maka harapan kami adalah sisa pembakaran batubara berupa fly ash dan bottom ash (FABA) dapat dikeluarkan (delisting) dari daftar limbah B3 di Tabel 4 Lampiran I Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun” ucap Liana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *